Monday, 13 September 2010

karma.

gue seneng belajar bahasa baru, jujur aja.
gue cuma ga terlalu seneng belajar aksara baru.

kecuali huruf hijaiyah, yang gue pelajari dengan terpaksa waktu sekolah dasar demi bisa nulis surat-surat pendek dan baca Al-Quran (yang selamat dari misi pembakaran pendeta aneh), dan huruf latin tentunya, gue buta huruf. sama sekali. dulu gue bisa baca hiragana dan katakana yang gue pelajari juga dengan terpaksa selama dua tahun di sma, tapi sekarang kemampuan bahasa jepang gue sudah berkarat parah. yah, kecuali beberapa survival phrases yang gue dapet dari nonton dorama-nya takuya kimura.

maka dari itu, gue pernah bertekad untuk tidak tinggal di negara dengan huruf asing, demi meminimalisir ketidakmampuan baca tulis dalam bahasa setempat. apalagi kalau warga setempat ga banyak yang bisa bahasa inggris, bisa celaka tiga belas kali lipat. kalau buat mampir beberapa hari sih mungkin oke, misalnya buat belanja di cina, main bola di world cup stadium di korea, atau jadi stalker takuya kimura lihat sakura di jepang. tapi soal tinggal di sana, waduuuh... kalau ada pilihan lain sih gue mending ambil pilihan lain deh.
kalau pilihan lainnya itu timbuktu? hmm... mari kita diskusikan lebih lanjut di kemudian hari.

tapi sekarang ceritanya bukan soal itu.

sekarang ceritanya adalah soal karma.
betapa hal yang gue mau, dan ga mau, terjadi dua-duanya sekaligus. gue mau kuliah di luar negeri, dan gue ga mau tinggal di negara yang ga pake huruf latin. ta-da! dan lihat sekarang gue terdampar di mana. hahahaha.

tidak bisa baca tulis dalam aksara setempat jelas membuat gue mengalami sejumlah kesusahan.

gue ga bisa baca menu, jadi hampir selalu harus bareng sama temen gue yang orang thailand kalo mau pesen makanan. gue bisa sih nyebutin nama beberapa makanan favorit gue, pad thai misalnya. tapi kalo penjualnya tiba-tiba nanya macem-macem, misalnya "udangnya mau dikupas atau dicincang?", gue tetep aja bakalan bengong.

gue juga ga bisa baca rute bus, yang ditulis di bagian pinggir dalam bahasa thailand. nah lho. ini resikonya jelas besar, karena gue ga bisa mengidentifikasi lokasi dan mencari tahu arah kembali. amit-amit deh kalau gue kesasar terus ga bisa pulang. ataupun kalau bisa nyetop taksi dan bilang "rong mueang soi neung", tapi kalau tiba-tiba meteran taksi sesampai di apartemen menunjukkan angka 450 kan ga lucu.

kalo habis belanja, gue ga bisa baca struknya. paling ya gue mengira-ngira aja dari harganya, ini barang apaan. well, kecuali kalo belanja di boots atau watsons ya. pas lagi belanja, gue juga ga bisa baca petunjuk penggunaan, karena sebagian besar produknya buatan thailand (apalagi perlengkapan bersih-bersih).

di apartemen gue ada semacam papan peraturan buat penghuni gitu, tapi gue ga tahu apa aja isinya karena ga bisa baca.

bahkan, waktu gue field trip ke bangkok art and culture center, gue ngeliat benda di bawah ini, dan gue pegang-pegang dengan antusias. abisnya membal, mirip trampolin... hahaha. eh tiba-tiba malorie nyeletuk, "puji, jangan pegang! kali itu tulisannya berarti 'do not touch'!".


moral dari cerita ini: hati-hati dengan permintaan anda. tapi jangan terlalu hati-hati, karena Tuhan punya selera humor yang tinggi.

tapi, Tuhan, saya mau, kalau kelak diberi kesempatan kuliah lagi, atau mencari penghidupan di luar negeri, saya mau di negara yang bahasa nasionalnya bahasa inggris...

2 feedbacks:

Begy said...

bo, emang ga ambil kredit matkul TFL (thai as foreign language)? lumayan tuh Ji kalo fasih bhs thai, kan katanya dibilangin udah mirip orang sana, siapa tau bs eksis jd jurnalis ato bahkan artes disana.

maharanism said...

hehehe, sayangnya ga ada mata kuliah semacam itu tuh begi. adanya thai culture doang, dan itu lebih ke belajar budaya instead of bahasa. dan gue ga bisa alih kredit mata kuliah, uhuhu. jadi ya selama di sini gue belajar buat senang-senang saja... :D

Post a Comment