Friday, 10 September 2010

the sexiest man alive

dulu gue pernah dapet pertanyaan, tapi lupa siapa yang nanya.
bunyinya begini:
"menurut lo, siapa laki-laki yang paling seksi sejagat raya? tapi harus yang masih bisa nafas!"
err... oke.
kok susah ya jawabnya?

tadinya gue mau jawab john lennon... hahahaha. tapi jelaslah ya almarhum tidak masuk kategori.
kenapa john lennon? karena john lennon gondrong, berkacamata, plus jago main gitar, dan buat gue itu seksi. eh tapi secara umum gue sih beranggapan kalo geeks are sexy, hehehe. plus, dia pria inggris, yang dari aksennya aja udah seksi. dan lagu-lagunya juga menyentuh hati, jadi komplitlah ya. apalagi, menurut gue, john lennon sedikit banyak menginspirasi pencitraan harry potter, yang merupakan salah satu tokoh fiktif favorit gue sepanjang masa (selain sherlock holmes, tintin, peter parker, doraemon, dan shinichi kudo).

tapi gue ga mungkin jawab harry potter, sherlock holmes, tintin, peter parker, atau shinichi kudo. apalagi doraemon. mereka kan hasil rekayasa, mana bisa nafas. dan gue ga bakal jawab daniel radcliffe, karena dia hanya tampak imut waktu umur sebelas tahun, tapi makin tua tampangnya makin "ga mirip harry potter". rupert grint? err... kurang geeky, hehehe. waktu liat dia jadi cedric diggory, tadinya gue pikir robert pattinson lumayan oke. tapi setelah dia jadi vampir labil, maaf deh.

eh jadi siapa dong ya?
gara-gara dapet pertanyaan aneh begini, gue jadi nyadar kalo udah lama banget gue ga punya artis lelaki yang diidolakan. kaya waktu zaman smp, gisha terkenal sebagai penggemar graham coxon. kalo diani, thom yorke. dan gue...

ih gue diledekin ampun-ampunan deh sama mereka berdua. "apaan sih lo, ngefans kok sama KUYA!" hahahaha.

eh tapi mas takuya ini ganteng sekali lho sumpah gue ga bohong. kalo diliat dari foto doang sih beliau agak tampak cantik, tapi kalian harus menyaksikan bagaimana dia bermain peran dan mencium pemeran utama wanita di episode terakhir. gue langsung jatuh hati waktu nonton long vacation, drama jepang di mana dia main jadi pianis. waktu dia jadi hairstylist yang jatuh cinta sama gadis lumpuh di beautiful life, gue rela nungguin dorama itu ditayangin di indosiar jam sepuluh malem, dan hampir setiap habis nonton gue bakal berurai airmata. dan gara-gara dia jadi co-pilot di good luck!, gue sempet bertekad mau jadi pramugari setelah lulus sma.




oh ya, dia juga main film lho.



waktu berlalu, dan takuya kimura terlupakan. bukan maksud sih, tapi pada masa itu gue kesulitan mempertahankan takuya kimura di dalam hati. mau cari soundtrack dorama-nya aja susah, lha wong ga tau apa judulnya (baca credit title aja ga bisa). download gambar-gambar dia lama-lama bosen. nyari gosip tentang dia juga garing karena keluarganya tampak adem ayem aja. nyari info tentang dorama barunya juga ga guna kalo ternyata ga bakal tayang di indosiar (yang jaman dulu langganan nyetel dorama). mau nyari dvd serialnya, susah. dan dengan kecepatan internet indonesia saat ini, mana betah gue nongkrongin youtube lama-lama buat nonton episode demi episode...

sampai pada suatu malam ku sendiri tiada teman kunanti gue buka youtube dan ngetik keyword "takuya kimura". ealaaaah, nemu video dorama banyak banget! itu mah ya langsung aja ditonton maraton sampai subuh. terus, begitu nemu judul soundtrack love generation yang selalu terngiang-ngiang di kepala gue, langsung deh dicari, di-download, dan diputer repeat track tiga hari berturut-turut. dan sampai hari raya ini, racun takuya kimura masih merajalela di otak. sekarang bahkan gue lagi memburu full album soundtrack good luck!, yang kebetulan instrumental semua. lumayan buat lagu latar di kala mandi pagi. ah, senangnya dimanjakan oleh koneksi internet bangkok yang kecepatan downloadnya seratus kilobyte per detik!

duh, mau dong dapat jodoh yang setia kaya shuji okishima, bisa keliling dunia kaya hajime shinkai, jago main piano dan ngajak pindah ke boston brondong juga gapapa kaya sena hidetoshi...

the feast

i tried to do a long descriptive post on this, but words fail me. i even got really teary at when i received a phone call from my mother this morning, when i arrived at the embassy and found out that i missed the prayer. but i got plenty of good food to eat on the spot and take away, had an awesome seminar class with a guest lecturer from the states, and my ajarn said that she loved my complexion.

do enjoy the humble pictures. i wish i have replaced my camera earlier, though. he is indeed loyal, but fujifilm is super crappy.


(people lining up in front of wisma indonesia, the residence of the ambassador of indonesia for thailand. later on, everybody will meet the ambassador himself at the residence's door, to shake hands and wish each other a happy eid.)

(the famous "ketupat" did not make a glorious appearance today, instead it was substituted with "lontong".)

(with ibu nana, wife of an indonesian diplomat, and a very dear friend.)

(me and malorie, my fellow scholar, whom i smuggled in to the feast. she has been to indonesia before, and was ecstatic to see lotsa people wearing batik.)

Thursday, 9 September 2010

takbiran!

hari terakhir ramadhan, sebagai blogger yang berdedikasi rasanya ga afdol kalo ga posting tentang lebaran.

dulu, gue selalu berandai-andai gimana rasanya lebaran di negeri orang. pas ngalamin sendiri, ternyata...

gue kangen buka puasa pakai ketupat dan opor. kangen suara takbiran dan petasan yang berisiknya ampun-ampunan. kangen ngelirik baju lebaran dengan tatapan penuh damba. kangen aneka kue kering buatan nyokap yang udah disusun rapi di meja ruang tamu. kangen males-malesan di ruang nonton tv sambil ngemil kue keju, nastar, cornflake, dan putri salju, setelah seharian beres-beres rumah. kangen bikin cornflake coklat sehabis buka (sambil jilat-jilat coklat leleh yang nempel di jari). kangen libur kuliah, di mana tugas-tugas akan dibiarkan terbengkalai sampai habis lebaran, dan hari-hari terakhir puasa gue malah kelimpungan mau ngapain. kangen nyokap gue bilang, "mbak, dorokdok-nya jangan diabisin!"

hari ini gue buka puasa pakai pocky strawberry. baru makan malam jam delapan, setelah cuci piring-sendok-garpu-rice cooker-kukusan. bikin bubur pake kaldu sapi (instan, tentu) terus ditimpa sawi kukus. ga ada kue kering, tapi gue punya sebungkus rice cracker yang langsung habis dalam sepuluh menit. di luar, seperti biasa, berisik balapan motor liar tengah malam. nyetrika seragam buat besok - iya, besok gue kuliah jam satu siang sampai jam empat sore.

(baju lebaran gue besok. satu hari dua setel baju... hehehe)

takbiran malam ini cuma bisa dinikmati lewat youtube, yang gue putar ulang setiap kali videonya habis. waktu videonya baru aja mulai, cessss... eh tiba-tiba pipi basah.

dan sekarang sudah dua belas menit lewat jam sebelas malam...

mungkin gue bakal begadang semalaman. maksud hati sih kemarin mau bersih-bersih kamar, tapi apa daya waktu tak mengizinkan, jadi mungkin malam ini deh sekalian. lagian, gue ga mau ketinggalan shalat id.

yah, yang penting gue masih ada kesempatan buat ikut shalat id... dan gue bisa ngerti penceramahnya nanti ngomong apa, karena shalatnya di kbri. bahkan habis itu bakal ada open house sampai siang, jadi besok gue bakal tetap bisa ketemu ketupat. tapi ya tetep, habis itu harus kuliah... huhuhu kangen libur lebaran tiada terkira.

tapi, terlepas dari kangen macam-macam ritual pra-lebaran, ramadhan kali ini penuh berkah, sangat berkesan, dan luar biasa menyenangkan. ini pertama kalinya gue puasa dan lebaran jauh dari rumah, tinggal sendirian, ngurus kehidupan sehari-hari dengan tangan sendiri, dan pake ikut lomba debat segala. but there is always a first time for everything, and i am (trying to) enjoy those experiences to bits.

ngomong-ngomong, lebaran tahun ini harinya "cantik" deh. tanggalnya bagus, 100910. pas hari jumat pula. mudah-mudahan tahun depan gue masih bisa ngerayain lebaran, terlepas gue ada di mana dan sama siapa ngerayainnya.

dan mudah-mudahan, hari sabtu mendatang, pendeta asal amerika ini udah kembali kewarasannya dan ga bakal nekat bakar Al-Quran. belum aja nanti gereja anda dibakar, atau tentara amerika di timur tengah sono dibunuhin gara-gara ulah anda bikin ngamuk umat setempat. kayanya anda kurang apdet deh om, orang islam kan juga banyak yang meninggal waktu 9/11. dan bendera itu beda sama kitab suci!

anywayy... selamat (liburan) lebaran, teman-teman dan pembaca sekalian! minal aidin walfaizin, diucapkan dengan tulus hati, langsung dari bangkok. :)

Wednesday, 8 September 2010

help!

siapa saja, tolong dong beritahu gue caranya ngaktifin international roaming im3 di thailand.

menurut utusan dari indonesia (baca: adik gue), roamingnya bakal langsung aktif kalo nomor gue punya pulsa minimal dua ratus ribu, tinggal pilih mau pake jaringan true atau ais. gue udah coba kedua jaringan itu, tapi ga berhasil! huhuhu hiks hiks.

ada yang tahu gue harus ngapain?

kangen mama

self-explanatory.

feedjit

waktu awal-awal ngeblog dulu, gue mengandalkan tagboard (semacam message board widget, sekarang gue pakenya shoutmix), comment, dan hit counter untuk mengecek seberapa sering blog gue dikunjungi. tapi ketiga alat bantu itu ternyata punya kemampuan yang terbatas, sehingga gue ga bisa terlalu memastikan bahwa blog gue itu cukup populer, huahaha.

tagboard sama comment sebenernya esensinya sama; buat meninggalkan pesan. bedanya, tagboard bisa dilihat dan diisi langsung di halaman utama, sedangkan comment itu ada buat setiap postingan. kendala keduanya juga sama: ga semua pengunjung berminat meninggalkan pesan. mereka cuma pengen mampir, mungkin lirik-lirik sejenak, terus lanjut blogwalking lagi tanpa meninggalkan pesan yang bisa diidentifikasi dari siapa. jejak mereka cuma terlacak di hit counter.

tapi hit counter pun sebetulnya ga terlalu menjamin bahwa blog seseorang dibuka banyak orang, karena hit counter akan bertambah satu angka setiap kali alamat blog itu dikunjungi, masa bodoh yang buka cuma satu orang tapi di lima window sekaligus, dan di masing-masing window ada lima tab (niat amat yak, hehehe). atau, contoh yang tidak terlalu lebay, adalah kalau si pemilik blognya sering ganti layout, nah kan bakal sering preview tuh... dan pastinya si hit counter ini berfungsi dong.

makanya, ketika sekarang ngeblog lagi, gue seneng banget ada feedjit. widget keren ini bisa mendeteksi dari mana asal pengunjung blog secara live. kan kalo blog gue dikunjungi sama orang-orang dari berbagai negara kan kesannya gue gaul banget gimana gitu ya aduh susah menjelaskannya dengan kata-kata. hahaha. tapi ya sebenernya kadang agak kurang berguna juga sih ini si feedjit, soalnya, kalo gue mau ganti layout blog kan gue bakal terdeteksi sebagai pengunjung juga. belum lagi kalo gue lagi penasaran pengen liat komentar terbaru atau semacamnya. pokoknya, kalau lihat visitor from bangkok, krung thep (itu nama provinsi, btw), itu hampir bisa dipastikan adalah gue... hehehe.

eh tapi gue baru saja menemukan satu kebegoan si feedjit. aduh mas, tolong belajar geografi dulu dong ya kalo mau jadi widget yang cerdas memetakan tempat asal orang.

Tuesday, 7 September 2010

good food, good mood

terus terang, gue bukan ahli masak. kalo di rumah pun paling banter masak air atau mi instan. atau kalo lagi rajin dikit, boleh deh masak pancake atau spaghetti. abis ya gimana, gue ga ada kesempatan masak karena tiap hari udah ada makanan bikinan pembantu. *berkelit

selama menjadi educational refugee di bangkok sini, tanpa masakan buatan rumah, otomatis gue harus menyiapkan segala kebutuhan konsumsi sendirian. untungnya, nyokap gue sangat pengertian: gue dibekali satu kardus supermi dan setengah kilo abon sapi. tidak untungnya, di apartemen gue ga ada dapur, jadi si supermi itu nyaris tidak berguna. gue pun harus mengabari kondisi tersebut ke nyokap gue, yang awalnya berencana mau masak macem-macem selama nengokin gue di sini bulan oktober nanti. tentunya tak lupa untuk memesan satu kardus popmie sebagai pengganti supermi yang terancam menganggur.

pada awalnya sih gue ga terlalu puyeng soal makanan, tinggal beli makan siang di kantin, makan malam bisa beli di luar atau dibawa pulang. bangkok ga pernah kekurangan makanan, tinggal lirik kanan kiri sedikit bisa lihat penjual makanan di mana-mana. harganya? jangan ditanya, murahnya bisa bikin geleng-geleng kepala! dengan harga sekitar sepuluh ribu rupiah, satu mangkok mi kuah dengan daging (bukan baso) sapi sudah bisa didapat, porsinya gede banget pula. mau yang agak mahalan dikit? there you have it, the sky is the limit!

tapi kemudian gue mikir... masa iya gue mau begitu terus selama empat bulan? apalagi waktu bulan puasa, pengen lah ya gue makan nasi panas di pagi buta. dan jrengjrengjreng... linda pun muncul sebagai penyelamat gue ketika dia bilang, "nih, lo bawa aja rice cooker cowo gue! bisa buat kukus-mengukus juga lho..."

baiklah... tak ada kompor, penanak nasi pun jadi!

waktu si penanak nasi pinjaman ini berhasil menuntaskan misi pertamanya, ternyata gue masak nasinya kebanyakan. yasudah deh, nasinya gue masukin ke kulkas. pas mau dimakan, kan nasinya jadi kering tuh, harusnya bisa dikukus sih tapi gue males soalnya pasti bakalan lama. biar praktis, gue taruh aja nasi kering itu di wadah penanak nasinya, terus gue tambahin air dan abon. eh, berhasil!

sejak saat itu, gue berpikir buat benar-benar memakai si penanak nasi ini buat masak, bukan cuma nasi belaka, tapi buat bikin lauk-pauknya juga. cuma apa mau dikata, dengan keterampilan memasak yang seadanya, gue ga bisa masak yang heboh-heboh, ayam kukus lemon misalnya. tapi gue ga kehabisan strategi dong... gue memutuskan untuk memasak nasi campur.

kelak, segala bahan baku akan dimasukkan tumplek plek langsung semuanya ke dalam rice cooker, dan mereka akan kompak matang bersama-sama. ga usah pusing soal rasa, cukup pakai bumbu instan - entah itu soup seasoning atau seasoning mix alias bumbu siap masak. biar makanannya agak bergizi, tinggal ditambah sayur mayur saja. jangan lupa buah dan susu kedelai satu kotak, biar empat sehat lima sempurnanya lengkap. dengan porsi yang cukup untuk satu kali makan pas buka puasa (atau dilebihin dikit biar bisa buat sahur sekalian), gue bisa irit sabun cuci piring dengan makan langsung dari rice cooker, hahaha.

selain percobaan nasi abon (yang jadi mirip bubur tapi tetap enak), gue juga udah berhasil nyoba masak nasi pakai ayam goreng yang disuwir (akhirnya jadi mirip nasi tim, yang juga enak bangets). terakhir, gue nyoba masak beef noodle soup, dengan bahan mi basah + daging sapi iris + bumbu kuah sup rasa sapi, yang hasilnya mantaps. gue juga udah berhasil mencoba fitur kukus-mengukusnya, dalam rangka menghangatkan makanan hasil take away dari kbri. dan sekarang gue merasa sangat bahagia punya rice cooker di apartemen, masak-memasak jadi mudah dan sehat, karena gue ga masak goreng-gorengan... hohoho. apalagi, rice cooker pinjaman ini punya prestasi yang lumayan: sejauh ini, dia dipakai buat masak apapun belum pernah gagal! me loves my fail-proof rice cooker!

oh, dan omong-omong, gue tadi mampir ke tesco lotus di chamcuri square, maksud hati mau membeli lauk pauk untuk buka puasa. eh, ternyata malah ngiler macem-macem, dan pandangan gue tertambat pada sepinggan deep fried fish sausage, harganya 30 baht saja. pucuk dicinta ulam tiba nih, gue kan lagi ngidam pempek dan otak-otak. eh, setelah dicoba, ternyata makanan ini enak sekaliiii.... banyak banget pula. oh sosis ikan goreng, kau sungguh menjanjikan... gue sanggup deh ditantang satu minggu makan nasi dengan hanya engkau sebagai lauknya.

intinya mah, perut kenyang hati senang, pundi-pundi pun tenang... hehehe.

saatnya mengerjakan essay kebudayaan thailand DAN seminar komunikasi!
meh, implikasi bolos seminggu demi debat.

identitas

hari ini gue ngambil kartu mahasiswa di siam commercial bank.

nah lho, ngambil kartu mahasiswa kok di bank?

jadi begini saudara-saudara, kartu pelajar mahasiswa universitas chulalongkorn itu ternyata bisa berfungsi sebagai kartu atm. ga bisa dipakai belanja karena tidak merangkap kartu debit, tapi ya lumayanlah. mirip sama kartu mahasiswa di kampung halaman (waktu jaman baru masuk kuliah, ehm, empat tahun yang lalu).

reaksi pertama: yay, akhirnya gue resmi menjadi mahasiswa universitas chulalongkorn yang sebenar-benarnya! gue bukan lagi orang asing yang pakai seragam dan numpang kuliah... hahaha. jadi bisa beli kartu pass buat skytrain dan mrt dengan harga pelajar deh, huree.

reaksi kedua: gue makin meyakinkan deh kalo mau nyamar jadi orang thailand. tampang udah mirip, pake seragam universitas setempat, kartu identitas mahasiswa juga punya. yang kurang tinggal kemampuan merespon pertanyaan tukang ojek di tengah perjalanan menuju kampus... hohoho.

oke, setelah riang gembira sesaat, tiba-tiba gue baru nyadar kalau si kartu pelajar ini tidaklah sendirian.

eh eh eh, ada buku tabungan! padahal kan gue udah punya rekening bank - di bank yang sama! - tiga minggu yang lalu waktu lagi miskin-miskinnya dan butuh beasiswa. tapi ternyata ga masalah tuh punya dua rekening atas nama orang yang sama di cabang yang sama... paling ya konsekuensinya si rekening gue yang baru ini bakal kosong melompong aja. untung deh.

terus terus, lirik punya lirik, ternyata masa berlaku kartu mahasiswa gue adalah... hanya selama semester ini, alias mulai sembilan agustus sampai duapuluhlima november!
asemm... berarti gue dapet kartu pelajarnya telat sebulan dong.

ketemu cinta lama

takuya kimura aw aw aw. kimu-taku aishiteru. <3 *cinta lama masa remaja.

Sunday, 5 September 2010

nyam!

mentang-mentang seharian ini berkutat sama blog, dan baru beres ganti layout setelah dikerjain sejak ashar, sekarang gue malah posting sambil makan. terlalu berdedikasi... ckckck.

anyway, setelah terbengkalai selama lebih dari lima jam sejak waktu buka puasa,akhirnya gue menyentuh mesin penanak nasi juga. di dalam sana, telah menanti sebuah hidangan yang terdiri atas tiga bahan dasar. pertama, nasi yang dimasak sejak kemarin tapi belum disentuh gara-gara kekenyangan buka puasa di kbri hari sabtu. kedua, kuah sup kimlo yang dibawa pulang dari kbri. ketiga, sepotong ayam goreng yang disuwir-suwir, yang asal-usulnya sama dengan si kuah kimlo. hasil akhirnya ternyata oke sekali saudara-saudara, bagaikan nasi tim!

sebenernya sih gue mencanangkan si nasi campur (atau tim?) ini untuk dua kali makan, pas buka sama sahur. soalnya, hari sabtu itu gue masak nasi lumayan banyak, dan sampai nasinya matang gue ga tau kalo di kbri ada acara buka puasa bareng, hahah. tapi apa daya, ketika akhirnya si nasi ini siap dimakan, malah gue cuekin dulu demi perwajahan si blog. teruuuus, ketika akhirnya gue udah siap untuk makan, eh ternyata piring sendok garpu kotor semua. sial. aduh males nyuci piring, habis makan kan kotor lagi, terus nanti harus dicuci lagi...

ya udah deh, sekalian aja makan nasinya dari rice cooker, biar nyucinya barengan sama piring. hehehehe.

aduh senangnya merantau di ibukota negara asing. apalagi kalau kedutaan besarnya ga jauh dari apartemen. apalagi pas bulan puasa. segala godaan untuk hidup tidak sehat - dengan jajan di pinggir jalan atau makan sticky rice berlauk ayam goreng tepung - bisa ditangkis dengan mudah. belum lagi misi penghematan besar-besaran yang juga dapat tercapai. kbri selalu bisa membuat gue senang bukan kepalang deh, hihihi.
Ya Allah, murahkanlah rezeki orang-orang kbri yang sudah memberi makan mahasiswa berdaya beli rendah macam gue ini... biar mereka ga pada korupsi. aamiin.

ganti kulit

sejak gue mulai punya blog pada tahun 2004, personalisasi blog adalah urusan yang paling menyenangkan sekaligus bikin ribet. namanya juga blog pribadi, jadi tampilan juga harus mencerminkan kepribadian dong (naon sih).

tapi, di masa itu, niat buat ganti layout (dulu gue nyebutnya dengan panggilan sayang "skin") akan memunculkan konsekuensi panjang: pilih-pilih layout blog yang oke, kalo udah dapet yang kira-kira keren maka di-preview satu-satu sebelum di-download. muncullah dia dalam bentuk kode-kode html yang memusingkan, yang masih harus diutak-atik lagi biar kesannya lebih personal. jangan lupa masukin kode-kode tambahan buat isi sidebar kaya shoutbox, hit counter, dan semacamnya. habis itu, di copy-paste deh kodenya ke bagian "edit html". kalau berhasil, ya hore. kalau preview-nya berantakan? ya ngedit lagi... huhuhu.


(bagian yang paling bikin pusing kalau mau ganti template)

dulu, personalisasi blog berarti memulai perburuan di blogskins, buka kode html pakai notepad, terus edit-edit skin, baru diujicoba di blogger. oh ya, untuk urusan header pic dan lain-lain yang berurusan dengan gambar, gue harus upload gambar-gambar yang berkepentingan dengan skin itu ke akun pribadi gue di situs hosting gambar (mine was in photobucket). karena pada masa itu internet masih termasuk kebutuhan sekunder yang tidak disediakan oleh nyonya rumah, gue bisa nangkring berjam-jam di warnet sebelah sekolah. tapi, karena bikin boros, akhirnya gue ngedit skin secara offline di rumah pakai microsoft frontpage sebelum pergi ke warnet buat preview. selain itu, biar edit-mengedit jadi lebih praktis, gue juga nyimpen alamat-alamat situs buat dipasang sebagai link, juga kode html buat tagboard, comments, hit counter, dan lain-lain. jadi, kalau suatu waktu nemu skin yang oke, gue tinggal copy-paste kode-kode itu dan bisa langsung preview di blogger.

meskipun merepotkan, ternyata berkutat dengan kode-kode html ini ada manfaatnya juga. waktu sma dulu, gue ada pelajaran teknik informatika (padahal mah komputer doang), dan salah satu materi yang diulang-ulang terus dari kelas dua sampai mau lulus adalah kode html. maka, buat gue dan diani, ini jadi soal yang paling cincay... hehehe.

setelah lamaaaaa banget ga ngeblog, gue jadi agak gagap ngedit layout. mau ganti skin pun jadi males, keinget ribetnya urusan sama kode html, dan desain di blogskins juga makin garing.

tapi ternyata, ngeblog di tahun 2010 lebih menyenangkan, saudara-saudara!
situs-situs penyedia layout atau template bertebaran di mana-mana, dengan desain yang sangat variatif, dan tersedia untuk macam-macam situs blogging seperti blogger dan wordpress. ga perlu daftar, pengunjung bisa langsung lihat demo (atau preview) langsung si layout. kalau suka, tinggal download. gratis!

dan yang lebih menyenangkan lagi, si layout ini nggak lagi muncul dalam wujud kode html yang sama sekali tidak bersahabat secara visual. dengan format .xml, layout ini tinggal di-upload ke blogger. kebutuhan edit-mengedit di bagian "edit html" pun jadi sangat minor, karena blogger sekarang punya bagian "page elements" yang sangat membantu tata letak halaman. yihay!

maka, dengan tekad bulat dan hati gembira, gue mendedikasikan hari ini untuk merombak wujud blog ini! hohohoho. berikut sebagian contoh template yang udah gue download dan ujicoba :)

(I love this one, tapi kok rasanya kurang "bangkok" gimanaa gitu... hahaha)


(kalau pakai yang ini, tinggal personalise background-nya aja, tapi ternyata background image-nya repeated gitu, bikin jelek dekor.)


(yang ini lumayan, tapi gambar entah-apa di sudut kiri atas itu rasanya agak ga nyambung... tapi kalo dihapus malah jadi garing.)


(I kindof like the simplicity, tapi kalo bisa pake header pic kayanya bakal lebih keren.)



p. s: tujuh jam kemudian, akhirnya gue memutuskan untuk pakai layout yang pertama, setelah nambah-nambahin widget dan ganti judul blog. fuhh! akhirnya gue bisa makan malam dengan tenang. eh ya ampun, besok kan ada make-up class jam sembilan! -_-

Thursday, 26 August 2010

warning: tulisan ini (agak) serius.

Sejauh yang saya tahu, media massa itu punya kekuatan yang dahsyat. Kalau dia raja, mungkin bisa ditambah dengan kata "maha" di depan kata dahsyat, untuk membedakannya dari acara musik di televisi. Kekuatan itu punya daya yang besar untuk mempengaruhi siapa-siapa yang menikmatinya. Seperti apa dan bagaimana kekuatan itu bisa jadi begitu berpengaruh, membuatnya jadi begitu menarik untuk dikaji (dan menakutkan untuk Menkominfo). Maka, di perpustakaan kampus saya, waktu berburu contoh-contoh skripsi sebagai referensi mata kuliah Seminar, sudah tidak aneh rasanya menemukan judul yang dimulai dengan "Pengaruh Media XXX terhadap YYY" atau semacamnya.

"Media" dan "influence" sudah menjadi kata kunci atas rasa penasaran banyak orang, yang kemudian termanifestasi dalam penelitian-penelitian. Saya juga terjangkit rasa penasaran itu. Tapi, alih-alih penasaran tentang bagaimana "media mempengaruhi", saya lebih tertarik tentang apa (-siapa?) yang "mempengaruhi media". Jika media bisa punya kekuatan mempengaruhi yang dahsyat bagi khalayaknya, yang punya kekuatan untuk mempengaruhi media pasti sakti mandraguna (atau, paling tidak, banyak duitnya).

Berada di Thailand dan menikmati sajian media massa setempat adalah pengalaman yang menarik. Televisi mungkin sebuah pengecualian, karena di apartemen saya tidak ada televisi. Radio juga mungkin iya, karena bahasanya saya tidak pahami. Koran lokal juga iya, karena saya bahkan tidak bisa baca hurufnya.

Sejak sampai di negeri gajah putih ini, saya hampir tidak pernah menonton televisi. Sekalinya nonton, yang ada di layar kaca adalah dua ekor panda asal kebun binatang di Chiang Mai, yang aktivitasnya disiarkan langsung oleh Panda Channel dua puluh empat jam sehari. Waktu saya nonton, panda-panda itu cuma lagi tidur sambil menggeliat, tapi Linda terus-terusan bilang, "aih lucu bangeeeeeet...". Err... I wonder why Thai people loves panda better than elephant.

Walhasil, saya banyak beroleh informasi dari internet. Acara televisi dan radio bisa di-streaming, dan koran berbahasa Inggris bisa dibaca halaman elektroniknya. Untuk menikmati akses internet tanpa batas di apartemen, saya harus membayar ekstra 400 baht setiap bulan - harga yang lumayan untuk kecepatan mengunduh rata-rata seratus kilobyte per detik. Yang mahal justru tarif listriknya, yang konon untuk pemakaian mahasiswa alakadarnya saja bisa mencapai 1.000 baht sebulan. So much to spend to stay updated? Welcome to Thailand...

Singkat cerita, berbekal apa yang sudah dan sedang dikonsumsi dari media setempat, saya terpicu untuk membuat sebuah penelitian. Tentang kekuatan macam apa yang begitu berdaya untuk mempengaruhi isi media massa, apa yang sudah diperbuat oleh kekuatan itu, dan apa yang terjadi kemudian. Tapi saya tidak sedang membicarakan konglomerasi. Ada kekuatan lain, yang di Indonesia dahulu pernah begitu berpengaruh di masa Orde Baru. Inilah, menurut saya, yang menjadi suatu hal yang sama-sama ada di Thailand dan Indonesia. Mudah-mudahan, hal ini juga bisa menjadi salah satu signifikansi yang membuat penelitian saya kelak memiliki nilai akademis tinggi.

Rasa penasaran pribadi ini sedikit-sedikit mulai terfasilitasi. Saya bercita-cita menghabiskan tiga bulan sisa waktu di Thailand untuk memburu jawaban-jawaban atas rasa penasaran itu. Supaya kelak, saat pulang nanti, hasil buruan itu bisa membantu saya mengakhiri karir akademik sebagai mahasiswa jurnalistik.

Nanti, setelah resmi tamat kuliah dan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi, saya mau mencari rejeki (dan jodoh? hahaha) di luar Indonesia. Deutsche Welle sepertinya seru, Al Jazeera boleh juga. Supaya bisa bertahan hidup di belantara lalu lintas negara tujuan, saya mau belajar naik sepeda. Saya akan tinggal di apartemen studio dengan balkon dan pemandangan lampu kota. Di waktu senggang, saya mau ikut kelas yoga. Di akhir pekan, saya akan pergi bersuka ria. Saya juga akan rajin menabung, supaya bisa centil-centilan di spa, dan tidak sengsara di hari tua. Mumpung bulan puasa, saya mau jadi ekstra manja.

sahur, sahur sendiri...

hari senin, dapat pinjaman rice cooker. gembiranya bukan kepalang. dasar orang asia, ujung-ujungnya pasti pengen makan nasi.

hari selasa, baru nyuci rice cooker dan memandanginya dengan jumawa, sambil mengkhayal nanti mau masak apa. beli beras dua kilo di tesco lotus. karena gue pecinta produk dalam negeri, gue beli beras thailand dong. hehe.

hari rabu, untuk pertama kalinya berhasil masak nasi di apartemen. tapi ga berhasil makan sahur pakai nasi panas gara-gara ketiduran dan baru bangun sepuluh menit setelah subuh. pas pulang lagi malamnya dan ga tau nih nasi kering mau diapain.

hari kamis, untuk pertama kalinya menggunakan mesin penanak nasi untuk memasak bubur, dan berhasil berhasil berhasil hore! biar penampilan dan rasanya makin menggoda, gue tambahin abon sapi yang diimpor dari pasar palasari. sebenernya gue agak-agak geuleuh gimanaaa gitu ya kalo makan abon, soalnya serpihan-serpihannya itu bikin piring bekas makan gue jadi tampak berbulu kaya rhoma irama, tapi yaudah lah ya. yang penting enak! yum yum!

p.s: gambar makanan sahur perdana gue di apartemen ini akan dimuat setelah subuh. hahahaha :))

puasa sambil kuliah part 1

ini minggu pertama gue puasa sambil kuliah, setelah sebelumnya libur khusus perempuan. hohoho.

kuliah performing arts minggu ini agak garing, karena om-om asal inggris yang datang minggu lalu ga datang lagi minggu ini. masih ngomongin romeo and juliet, kuliah kali ini diisi dengan screening beberapa adegan kunci dari dua versi film romeo and juliet (1968 dan 1997). tentu saja termasuk adegan cium-mencium. aduh, cobaan bulan puasa.

tapi bulan puasa juga membawa rezeki, karena pas hari senin mampir ke rumah linda buat minjem kipas angin, gue dipinjemin rice cooker sekalian. oh, senangnya bisa sahur nasi panas di apartemen! tapi tadi malam gue ketiduran dan baru bangun jam lima pagi, sial.
moral of the day #1: lebih baik sahur sekarang daripada ditunda-tunda sampai ketiduran.

bulan puasa kali ini godaannya banyak. dengan cuaca di atas tiga puluh derajat celsius pada siang hari, tidak ada yang lebih menggoda daripada iced thai tea dengan bubble yang harganya cuma lima belas baht. dan, tentu saja, hampir semua orang di pinggir jalan bisa minum dengan bahagianya. eh, ada yang lebih menggoda deng. tawaran jadi n1 adjudicator di sini. haha, i will be an adjudicator from chulalongkorn university!

maka dari itu, dimulailah petualangan gue di chulalongkorn english debating society. hari ini ada dua debat, mulai jam enam dan selesai jam sembilan. habis itu dinner sama empat anggota lain yang masih tersisa, terpaksa makan ikan bakar seharga 80 baht di restoran steak gara-gara tempat makan yang lain udah tutup semua, dan pulang naik taksi sesudahnya. sampai apartemen jam sebelas malam, wow. untung taksi dari sam yan ke rong mueang cuma 40 baht.

bulan puasa kali ini juga penuh dengan perjuangan. mau shalat di kampus ternyata susah, karena ga ada mushala di fakultas. kata staf di kantor sih ada, di chamcuri 5, tapi rada jauh. ah, malasnya. jadi kemarin numpang shalat di meeting room, dan hari ini pinjam ruang kosong di chamcuri 9 (gedung student center). tapi kedua ruangan itu ga berkarpet, dan lantainya agak-agak berdebu gitu. haduuuh.
jadi, moral of the day #2: besok beli koran, lumayan buat sajadah darurat. you can never be too prepared.

all in all, puasa hari ini menyenangkan. selesai kuliah thai culture, ada wawancara di kantor fakultas sama mahasiswa-mahasiswa dari jurusan advertising, thai program. mereka mau wawancara mahasiswa pertukaran buat tugas mata kuliah english interview, katanya. gue ga sendirian, tapi bareng malorie sama ken. para pewawancara ini bawa sesajen pula, sekotak manisan dan sekotak lagi mini crepes yang renyah. ada juga yang bawa semangka dan jambu, maksud hati buat cemilan pribadi tapi toh akhirnya dibagi-bagi. tapi karena belum waktunya buka puasa, gue harus berpuas hati hanya menyaksikan orang lain makan. eh, ternyata malorie sama ken cuma nyicipin sebagian sesajen doang, sisanya dikasih ke gue semua, dan masih banyak banget. ah, senangnya bisa berbuka dengan yang manis (dan gratis), hehehe.

sekarang sepuluh menit menjelang jam dua pagi. menu sahur hari ini, karena tadi ga sempat beli lauk di warung, adalah nasi dan abon.. mungkin tambah supermi biar ada kuahnya. supaya agak lebih bergizi, ada apel, susu kedelai, yoghurt stroberi, dan... honey stars! :D

selamat puasa teman-teman! foto-fotonya menyusul ya...

Thursday, 19 August 2010

"barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan"

Merasa familiar dengan kalimat itu?
Di Indonesia, kalimat yang banyak tampil di kuitansi pembelian barang itu sudah terlalu sering jadi senjata ampuh bagi penjual (apalagi yang nakal) dan kartu mati bagi pembeli (terutama yang sial). Jadilah nyokap gue, dengan pengalaman profesionalnya sebagai Quality Control paling bawel sedunia, selalu rajin menasihati gue untuk "teliti sebelum membeli". Efek sampingnya adalah gue jadi orang yang picky minta ampun, dan tidak terbatas dalam hal belanja, hahaha.

Sebetulnya sih tidak semua barang yang sudah dibeli itu "tidak dapat ditukar atau dikembalikan". Waktu gue SD, gue pernah dapet sepatu warna putih dari Sinterklas (yep, my mum brought me to an event in a mall where we can meet Santa Claus and he will gave us presents because we were "good kids"), tapi ternyata kegedean satu nomor. Hari berikutnya, sepatu itu tiba-tiba ukurannya pas, karena nyokap balik lagi ke toko buat nuker itu sepatu. Salah satu contoh lain bahwa barang yang sudah dibeli "bisa dikembalikan" bisa dilihat di film My Name Is Khan, waktu Shahrukh Khan bilang ke anak tirinya, "return policy only fourteen days". Oprah Winfrey, yang sering bahas tentang orang Amerika yang kebanyakan belanja, juga sering nampilin orang-orang yang cerita kalau mereka akhirnya ngembaliin barang yang udah dibeli setelah sadar kalo sebenarnya barang yang dibeli itu ga penting (-penting amat).

Beralih dari return policy, pernah dengar istilah culture shock? Biasa dialami oleh orang-orang yang baru datang ke tempat yang baru dengan budaya yang berbeda - dalam bahasa Indonesia biasa disebut gegar budaya?
Nah, di sini, gue mengalami hal yang serupa tapi tak sama: customer shock.

Sebelum berangkat, gue beli buku Rp. 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura-nya Claudia Kaunang. Dari sana gue mengenal Boots, toko produk kosmetik dan perawatan diri yang berbasis di Inggris Raya tapi pabriknya ada di Thailand. Toko ini sepertinya sangat menyenangkan untuk penggemar body care product macam gue (yang sejauh ini hanya bisa ngeceng barangnya, tapi begitu liat price tag-nya langsung mundur). Sampai sebelum pindahan pun, gue ga beli apa-apa setiap kali mampir ke Boots. Gue cuma diam-diam mencatat nanti mau beli apaan, dan setiap kali mampir, daftarnya makin panjang, hahaha.

Anyway, sehari setelah pindahan dan menyadari kalo gue ga punya sampo, akhirnya gue membulatkan tekad untuk pergi ke Boots dengan misi membeli toiletries dan perkakas kecantikan. Boots sendiri banyak banget cabangnya di Bangkok, hampir di setiap pusat perbelanjaan ada deh kayanya. Mampirlah gue ke Boots di gedung Tesco Lotus Rama I, yang cuma sepuluh menit naik bus nomor 113 atau 47 dari kampus, dan lima menit naik tuk-tuk ke apartemen (tawar dulu sampe supirnya mau dibayar 20 baht :D). Sesampainya di kamar, gue langsung nyobain sunblock muka yang baru dibeli. Nah lho, kok warnanya beda sama yang gue punya sekarang? Dem, ternyata sunblock yang gue beli itu warnanya putih, meskipun di kemasannya bilang warnanya "natural" dan bukan "white". Yee, padahal kan gue sengaja bela-belain beli itu seharga dua ratus sekian sekian baht karena bisa jadi tinted moisturiser juga. Aduh gimana yes, mubazir dong?

Ternyata tidak, saudara-saudara!
Kegundahan hati gue berakhir seketika saat gue membalik bukti belanja dan membaca,
"We will be happy to exchange for merchandise or give a refund if the product is returned in good condition within 30 days of purchase. Please retain this receipt and show to the store where you made this purchase."
Wah, bukan sehari dua hari atau satu minggu, bahkan lebih dari return policy sepatu di film My Name Is Khan! Hore!

Maka, pergilah gue dua hari kemudian ke Boots, dengan si sunblock yang masih terpajang manis di kotak kemasan. Maksud hati sih mau nuker sunblock, tapi cemas juga takut ditolak dengan segala macam justifikasi sepihak. Eh, ternyata mas-mas pharmacist-nya baik banget! Dengan bahasa Inggris yang fasih, dia bantuin gue milih sunblock baru setelah gue bilang, "I bought this two days ago but it has different colour with the one I already have, can I exchange it?". Dia bahkan bilang, gue boleh minta refund kalo gue mau. Wow, diganti uang tunai seharga barang waktu dibeli, siapa menolak?

Singkat cerita, gue ga nemu warna sunblock gue yang lama, jadilah gue minta refund. Yay, fresh money - uang segar! :D

Pas lagi nunggu duit refund, tatapan gue terdampar di sebuah pamflet di kasir. Gue sih awalnya ga ngerti isi pamfletnya (maklum, buta huruf), tapi ternyata ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Pembelian di atas sekian baht dapat bonus senilai sekian, bisa pilih satu dari lima set sampel produk kosmetik yang tersedia. Dan pembelian di atas sekian sekian baht (dua kali lipat yang pertama) bonusnya lebih seru lagi. Nah lho, gue kan kemarin ini belanjanya lebih dari yang sekian sekian, tapi kok ga dapet bonus? Komplainlah gue ke si mas-mas pharmacist, dan dia langsung minta maaf sedalam-dalamnya dan langsung nawarin gue pilihan bonus yang tersedia.

Gue melirik satu set yang ada tinted moisturiser-nya dengan penuh damba, dan mas-mas pharmacist dengan baik hatinya mengizinkan gue membuka plastik dan ngetes warna si tinted moisturiser itu. Pas gue tanya apa ada warna lain, dia menghilang buat ngecek, oh ternyata ga ada warna lain. Gue tanya lagi apa ada set lain yang juga berisi si tinted moisturiser, dia ke belakang lagi, dan balik lagi dengan tampang apologetik sambil bilang kalo stoknya habis. Ya sudah, ambil yang ada di depan mata saja deh jadinya.
Aduh, makin ga enak hati deh jadinya, setelah sebelumnya menyangka kalo gue ga bakal bisa exchange barang apalagi refund. Maaf ya mas, saya sudah jadi pembeli yang galak dan berprasangka buruk..

Tapi cerita ini belum selesai, karena hari ini tanggal sembilan belas Agustus. Nah lho, apa hubungannya?
Jadi begini saudara-saudara sekalian, karena belanjaan gue itu lumayan banyak, gue dikasih tiga kupon diskon masing-masing senilai 250 baht, yang berlaku buat belanja produk skincare (lokal buatan Boots) minimal 300 baht. Tapi kuponnya ga bisa digabung, alias hanya berlaku satu kupon per transaksi. Wow, tampak lumayan. Tapi karena hari ini hari terakhir, kuponnya harus dibelanjakan kalau tidak mau tersia-siakan.
Lirik punya lirik, merk produk skincare yang di-cover sama kupon ini ada empat, dan dua di antaranya adalah produk anti-aging. Buset, gue kan masih muda belia. Skip. Jadi ada dua pilihan tersisa, tapi kok ga ada yang harganya pas 300 baht? Kalau ga dua ratusan, langsung loncat ke 350-an. Nemu merk yang tampaknya oke, tapi harganya 299 baht - kalo mau beli dua produk bakal habis minimal 400. Skip! Wah, tinggal satu merk yang tersisa, dan dia punya body lotion dan body butter yang harganya 350 baht. Cucok nih, tinggal dibeli satu-satu aja, biar semua kuponnya kepake. Ga apa-apa ya mas, saya ga licik kok, saya hanya berbelanja dengan strategi... hehehe.

Eh, tunggu dulu. Body lotion yang gue beli ini punya khasiat whitening dan SPF 30 toh? Berarti whitening sunblock - yang juga gue beli kemarin - bakal ga guna dong? Tanya ah, boleh minta refund lagikah? Wah, ternyata mas-mas pharmacist yang ramah itu bilang boleh! Hore lagi! Refund tiga ratus baht dibayar tunai! :D

Monday, 9 August 2010

first day school!

Bayangkan antusiasme Nemo si ikan badut kecil menjelang hari pertama sekolah.

Nemo di belantara lautan, gambarnya dari sini.

Sekarang, bayangkan si Nemo harus mengenakan seragam dengan kancing kemeja harus ada logo sekolahnya, pakai sabuk dan bros yang juga ada logo sekolahnya, tapi semua perintilan itu belum ada yang dia beli (memang seperti apa sih seragamnya?).

Bayangkan juga si Nemo baru datang ke sebuah anemon di belahan laut antah berantah yang, meskipun tetangga-tetangganya mirip dia, mereka bicara dengan bahasa ikan yang berbeda, sehingga dia cuma bisa mendengar "glup glup glup", dan kesulitan bahkan untuk memesan makanan di kantin, karena agamanya melarangnya makan daging babi.

Dan di anemon antah-berantah itu, dia belum punya tempat yang tetap untuk ditinggali selama masa kuliahnya yang relatif singkat, karena bilik anemon sewaan rata-rata harus disewa paling tidak setengah tahun lamanya. Padahal dia sudah menclok di anemon itu selama sembilan hari.
Dan si Nemo tidak punya uang untuk membayar deposit si bilik sewaan, karena sekolahnya masih butuh waktu sebelum menunjukkan bahwa mereka murah hati.
Jadi, ketika bangun di Senin pagi ini, Nemo gundah gulana tiada tara.

Sekarang, bayangkan gue sebagai Nemo. Tapi jangan bayangkan gue tinggal di anemon. Oke. Bagus.

Hari ini, si Nemo pergi sekolah dengan hati gundah karena belum punya rumah. Dia datang untuk membeli atribut seragam dan memeriksa jadwal kelas, karena hari ini tidak ada kuliah. Maka, dia memutuskan untuk menyusup ke dalam kelas manajemen marketing (semacam itulah), yang sebenarnya tidak diikutinya. Materi di kelas itu bukan sesuatu yang menarik perhatiannya, meskipun kelasnya sendiri menarik. Tapi si Nemo lebih tertarik dengan jurnalistik.

Tak hanya itu, dia harus pula meninjau bilik anemon sewaan yang jadi incaran, mudah-mudahan segala urusan dan negosiasi mulus lancar dan bisa segera pindah.

Urusan bilik anemon sewaan ternyata berakhir bahagia. Karena membayar separuh uang deposit di muka, si Nemo boleh pindah ke bilik itu secepatnya. Sisa separuh uang deposit dan satu bulan uang sewa di muka boleh dibayar kemudian setelah si Nemo mendapat dukungan sewarna rumput laut dari sekolah. Oh betapa senangnya si Nemo, kini ia hanya perlu membelanjakan dukungan yang didapat dari sekolah untuk membuat biliknya layak huni. Bukti pembayaran deposit dan salinan kontrak sudah di tangan, tinggal datang bawa badan dan barang-barang ketika rasa hati sudah ingin pindah.

Tapi mudah-mudahan ada pilihan yang lebih meringankan. Masih ada hari esok, dan semoga saja apa yang terjadi di hari esok membuatnya tidak perlu menyewa bilik anemon itu sama sekali.

Di akhir hari, si Nemo menyadari, bahwa ketika pulang ke rumah dia harus mengerjakan setidaknya dua pe-er: laporan keuangan harian dan posting blog. Tapi si Nemo senang, karena sudah membeli kartu pass untuk naik kereta langit, dan yang lain-lain juga.

Saturday, 7 August 2010

Kisah Raja yang Dipuja

Sebagai orang yang buta monarki, gue berangkat ke Thailand dengan pemahaman yang sangat minim tentang keluarga kerajaan. Di Indonesia memang ada sejumlah kerajaan dan kesultanan, tapi toh mereka bertahan dengan alasan yang cenderung kultural, tanpa pengaruh signifikan ke pemerintahan di tingkat nasional. Contohnya Kesultanan Yogyakarta. Tapi, berdasarkan hasil obrolan ilmiah (tsah!) sama Bu Eni Maryani, gue dapet info kalau Sri Sultan Hamengkubuwono X masih dianggap sebagai figur pemimpin yang "sempurna" di Yogyakarta, baik sebagai gubernur maupun raja. Makanya, cerita Bu Eni, segelintir orang Yogya nggak setuju Sri Sultan jadi Presiden. Mereka nggak rela rajanya dicela-cela, sehingga tidak bisa lagi dipuja, karena tidak lagi tampak sempurna.

Itulah sebabnya gue pengen bikin penelitian terkait keluarga kerajaan. Kenapa bukan tentang keluarga kerajaan? Karena topik itu tergolong sesuatu yang teramat sangat sensitif, seperti SARA, jadi agak beresiko dan susah diteliti. Lagipula, gue lebih tertarik dengan pengaruh keluarga kerajaan yang teramat besar, dan bagaimana itu mempengaruhi kehidupan orang-orang di sini. Misalnya, hari Kamis depan bakal ada Mother’s Day atau Hari Ibu, hari libur nasional untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Sirikit. Sejak gue sampai di Bangkok seminggu lalu, foto-foto sang ratu sudah banyak terpampang di seantero kota sebagai tanda penghormatan.

Raja Bhumibol Adulyadej, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn, dan Ratu Sirikit.
(foto diambil dari sini)


Gue belum sempat ngobrol banyak dengan temen-temen gue yang asli Thailand seputar keluarga kerajaan, terutama karena topik ini rawan banget kalo dibahas di tempat umum (kecuali lagi ada di tempat yang orang-orangnya cuma bisa bahasa Thai). Baru seminggu setelah gue di Bangkok, gue tahu kenapa Raja Bhumibol Adulyadej, atau Rama IX, begitu disayangi dan dihormati rakyatnya.

Menurut Tuk, temen gue yang asli Thailand, Rama IX adalah raja yang benar-benar berdedikasi. Beliau sudah jadi seperti ayah bagi seluruh rakyatnya. Maka, dengan alasan yang sama terkait dirayakannya Hari Ibu, Hari Ayah di Thailand dirayakan untuk memperingati hari ulang tahun sang raja.

Rama IX adalah raja yang memperkenalkan hujan buatan di Thailand, dan hujan yang pertama kali itu dia bikin sendiri. Kalau ada konflik di daerah pemerintahannya, sejauh dan seterpencil apapun, beliau akan datang sendiri untuk menenangkan keadaan. Sang raja juga menguasai semua bahasa daerah suku-suku di Thailand, jadi nggak ada cerita rajanya gagap komunikasi atau butuh penerjemah lokal. Waktu terjadi pertumpahan darah di Thailand tahun 1972 dan 1993, konflik reda seketika begitu sang raja membuat pernyataan publik, yang singkat tapi mengena, "Sesama orang Thailand tidak saling bunuh".

Jadi inget cerita Pompam, asisten dosen di kampus gue, kalau sampai sekitar sepuluh tahun lalu, Raja akan datang ke acara wisuda universitas-universitas negeri di seluruh Thailand. Bukan cuma hadir sebagai tamu kehormatan atau ngasih kata sambutan, tapi Raja bakal menyerahkan ijazah langsung pada para wisudawan. Karena alasan kesehatan, kegiatan ini akhirnya digantikan oleh putri sang raja. Maklumlah, satu kali acara wisuda bisa berdiri lama banget, tiga sampai lima jam nonstop!

Itu cuma sedikit dari banyak alasan kenapa Rama IX begitu dipuja "anak-anak"nya. Maka, jangan heran kalau ada lèse-majesté – hukuman berat bagi mereka yang melakukan penghinaan terhadap keluarga kerajaan. Bisa-bisa berurusan panjang lebar sama polisi dan berakhir lima belas tahun di penjara, tidak peduli pelakunya orang lokal atau pendatang. Tapi, kalau kata Tuk, orang-orang macam ini tidak akan dipenjara – mereka bisa jadi mati duluan di tempat karena dihakimi massa. Orang Thailand tidak rela kalau sosok yang begitu berjasa bagi kehidupan mereka dibicarakan keburukannya. Jadi, hati-hati dengan penggunaan kata บิดา (Bidā), yang artinya "father" atau "ayah" di ruang publik.

"Cinta pada 'ayah'-lah yang bikin negara ini (masih) bersatu," bilang Tuk.

p.s : Gue ga bisa buka halaman wikipedia yang isinya profil raja, diblokir karena isinya dianggap berbahaya. Tapi, ini dan ini lumayan banget buat tambahan informasi. Kalau Departemen Kominfo bisa punya kekuatan semacam ini, mereka bakal blokir apa ya?


Friday, 6 August 2010

lopburi tragedy

Rencananya, hari ini gue dan Linda mau pergi ke Lopburi.
Linda ini adalah pacar dari adiknya temen gue, yang rumahnya saat ini menjadi tempat penampungan gue untuk sementara. Dia mau ke Lopburi untuk urusan kerjaan, dan gue jelas lebih milih ikut dia daripada bengong di rumah atau diajak keliling kampus sama teacher assistant. Lumayan, bisa ketemu monyet-monyet.

Seperti biasa, perjalanan jauh selalu bikin gue ngantuk. Jadi tidurlah gue sepanjang jalan. Eh, tiba-tiba gue ngerasa mobilnya Linda ngerem mendadak. Begitu bangun, ada bagian belakang mobil pick-up nangkring tepat di depan muka gue. Walah, tabrakan!

Gue lirik ke kursi supir, Linda ga ada. Ternyata dia di luar mobil, dan tampak lagi marah-marah sama si supir mobil pick-up. Ga lama kemudian, dia buka pintu mobil. "You'd better go outside, I'm afraid the damage will start a fire," katanya. Terkantuk-kantuk, gue keluar dan akhirnya panas-panasan di pinggir jalan selama hampir dua jam.

Tuk, pacar Linda, sampai ke TKP ga lama kemudian. Sebelumnya, ada petugas dengan rompi bertuliskan "rescue", yang mampir untuk ngecek apa ada yang terluka. Untungnya sih semuanya sehat walafiat. Abis itu ada polisi, terus petugas asuransi yang datang untuk motret kondisi mobil dan ngurusin klaim kerusakan. Setelah mindahin barang-barang dari mobil Linda ke mobil Tuk, kami pergi ke pusat servis. Mobilnya sendiri berangkat ke pusat servis diantar mobil derek.

Sejak kecelakaan terjadi sampai mobil diderek, banyak pembicaraan terjadi di sana, dan semuanya ga gue pahami. Tapi satu yang terlihat jelas, Linda dan Tuk tampak bete berat. Linda orangnya lemah lembut banget, dan Tuk senang bercanda, tapi saat itu tampang mereka kusut luarbiasa. Sesaat setelah semua urusan dengan orang asuransi beres, Tuk mencetus, "Welcome to Thailand!"

Ternyata, menurut aturan lalu lintas di Thailand, kalau terjadi tabrakan antarmobil, yang salah adalah mobil yang ada di belakang, karena mobil itu yang nabrak. Padahal, menurut Linda, mobil di depannya juga salah, karena ngebut dan kemudian ngerem mendadak. Dan justru kerusakan yang lebih parah dialami sama mobilnya Linda, sementara mobil di depannya cuma penyok sedikit di sudut. Untung saja mobilnya diasuransi, penumpangnya ga ada yang terluka, dan ga harus berurusan panjang lebar sama polisi.

Kecelakaan itu jelas bikin batal acara jalan-jalan ke Lopburi. Apalagi, mobil Linda harus mendekam sebulan di pusat servis. Akhirnya, hari ini gue makan makanan khas Thailand utara (ada makanan yang mirip pepes daging cincang, tapi ternyata otak babi) dan belanja seragam di Tawanna, tempat belanja murah yang mirip Pasar Murah Kepatihan. Lima ratus empat puluh baht saja untuk tiga kemeja dan dua rok. Ya sudah, kita berjumpa lain kali saja ya, monyet-monyet..

Thursday, 5 August 2010

:'(

saya kesal sama mereka yang berjanji akan mengisi pundi-pundi uang saya.
karena janji kalian palsu semua.
jadi saya terlunta-lunta di ibukota sebuah negara asing yang hurufnya saya tidak bisa baca.

saya kesal sama kampus saya yang baru.
karena ternyata salah satu penerima beasiswa ini adalah mahasiswa universitas swasta, padahal salah satu persyaratan yang mereka bikin sendiri, mereka bilang kalau beasiswa ini buat mahasiswa universitas negeri.
karena uang beasiswa belum cair.
karena kartu mahasiswa baru selesai akhir bulan.
karena mereka ga bantuin buat dapet kamar di asrama kampus.
jadi harus cari sendiri.
jadi duit makin menipis.
tapi sampai sekarang belum dapet apartemen dengan harga terjangkau.
padahal harus beli seragam.
padahal harus bertahan hidup.
dan kuliah mulai hari senin.
dan puasa mulai hari rabu.
saking risaunya, saya belum foto-foto sama sekali.

Tuhan, semoga apartemen di Rongmuang punya dua kamar kosong hari Minggu nanti buat saya dan mbak Malorie.
Kalau nggak bisa, semoga bisa numpang di rumah Marisa sampe Lebaran, jadi apartemennya biar buat mbak Malorie aja.
Kalo nggak bisa, semoga saya dapet kamar di Petchaburi soi 7, biar dekat mesjid.
Biarpun ga bisa ngerti khatibnya ngomong apa, saya pengen tarawih..

Sunday, 1 August 2010

the first 50 hours

Gue udah sampai di Bangkok.
Sejak Sabtu malam ku sendiri tiada teman kunanti, gue resmi jadi penghuni sementara di Thailand setelah visa gue dicap di imigrasi Bandara Suvarnabhumi dengan tulisan "used". Dan, seperti yang pernah gue duga sebelumnya, gue mendadak buta huruf. Yang mana agak menyebalkan, karena menghambat gue jajan di pinggir jalan (soalnya cuma bisa baca harga doang tapi ga bisa baca menunya).

Tapi gue ga bisa bertingkah macam turis di sini, meskipun seminggu ini gue masih santai karena kuliah belum mulai. Karena ternyata tampang gue adalah tampang tipikal orang Thailand. Alamakjang. Pantesan setiap orang nyapa gue dengan bahasa Thailand, bahkan mbak-mbak kasir Tops market nanya sesuatu ke gue pake bahasa Thailand (yang gue asumsikan sama maknanya dengan mbak-mbak kasir Alfamart yang nanya apa gue punya kartu member), yang gue jawab dengan gelengan kepala semata.

Dan toh, terlepas dari faktor bawaan (baca: muka), gue masih bernasib seperti turis. Dirampok taksi yang mutermuter di jalan, kehabisan mata uang lokal karena harus bayar hostel dengan uang tunai, menggunakan internet di hape dengan semena-mena sampai pulsanya langsung habis (persis kaya waktu di Jerman, cuma nominalnya aja beda), berhari Minggu di pusat perbelanjaan sampai kaki dan dompet nelangsa, dan naik BTS masih dengan single ticket. Lihat saja nanti kalo gue udah punya student pass setelah resmi jadi mahasiswa... muahahahahaha. Selain semua yang telah tersebut di atas, gue juga masih agak bingung dengan akomodasi sementara sebelum dapat apartemen yang pasti bakal disewa selama empat bulan ke depan, . Maka jadilah minggu ini gue turis yang menggembel dengan koper tiga puluh kilo kurang empat ons..

Besok waktunya gue ke kampus buat ngurusin segala tetek bengek administrasi. Mudah-mudahan bisa sekalian berburu apartemen, paling tidak sampai rekan-rekan dari Filipina itu datang tanggal lima, jadi nanti gue tinggal merayu mereka buat pilih tempat yang sama dengan gue *evilsmirk. Mudah-mudahan juga dapet apartemen yang ada dapurnya, jadi bisa masak supermi, aamiin.

Lapar. Tapi ngantuk. Jadinya tidur aja, biar bisa mimpi makan.
I cannot believe am saying this, but I cannot wait for Monday.