Showing posts with label shop shop shop. Show all posts
Showing posts with label shop shop shop. Show all posts

Thursday, 28 October 2010

berkah sumpah pemuda... kayanya sih.

hari ini hari sumpah pemuda. kalau bukan garagara timeline twitter yang ramai dengan topik ini ketika hari berganti, mungkin gue bakalan ngeh. dan pas inget kalau sumpah pemuda itu dideklarasikan tanggal 28 oktober 1928, gue baru nyadar kalau hari itu terjadi 82 tahun yang lalu. serasa cantik gimanaa gitu, tanggal 28, 82 tahun... hehehe.

masih pada ingat naskah sumpah pemuda? ini dia...

(gambarnya diambil dari sini)

di bangkok sini, hari sumpah pemuda (tentu saja) terasa sepi. gue sempet ngecek ke website kbri , ga ada kabar tentang perayaan atau upacara tertentu tuh. moga-moga nanti pas hari pahlawan ada. jadinya yang ramai karena hari ini, selain timeline twitter, adalah status facebook teman-teman.

oleh karena ga ada upacara atau perayaan apapun di sini, maka sebagai seorang pemuda pemudi harapan bangsa, yang bisa gue lakukan adalah belajar sejarah pengetahuan (episode minggu ini: tanaman dan atmosfir) sepenuh hati nun jauh di negeri gajah. eh, ternyata hari ini kuliahnya hanya dua jam, dan beres kuliah gue langsung pulang ke apartemen karena pengen tidur siang.

begitu bangun dari tidur siang, gue tiba-tiba kepikiran, pemudi harapan bangsa harusnya bisa melakukan sesuatu yang membuat siang harinya lebih produktif daripada tidur.... huhuhu. jadilah gue mulai buka internet lagi, cari-cari bahan buat si calon skripsi. pemudi harapan bangsa kan tentunya harus merencanakan masa depan dengan bijak supaya kelak bisa berbakti kepada negeri, dan tidak terlarut dalam kesenangan saat ini (hahaha geuleuh). makanya, gue harus memaksimalkan waktu yang ada buat ngumpulin bahan dan lain-lainnya, biar pulang ke jatinangor tinggal usmas! aamiin.

cerita dikit soal penelitian (yang mudah-mudahan bisa jadi skripsi) gue nih, jadi ceritanya gue mau meneliti tentang khor tot, pratet thai atau apologize, thailand, semacam iklan layanan masyarakat yang kena sensor sehingga ga bisa tayang di televisi. iklannya kaya begini:


masih ada yang mengganjal soal penelitian ini, yaitu narasumber kunci yang paling kunci. waktu gue wawancara narasumber gue yang pertama, ternyata beliau ga terlibat dalam proses pembuatannya. maka gue harus cari sang creative director, yang sialnya konon teramat sangat sibuk. bahkan si narasumber pertama itu nampak agak ga rela buat ngasih gue nomor kontaknya. penelitian gue memang dapet banyak bahan baru setelah wawancara itu, tapi tanpa jawaban sang creative director, rasanya masih banyak yang ngegantung.

walhasil, hari ini gue memutuskan untuk google nama beliau, siapa tau ada video wawancara atau apa, yang kira-kira bisa gue pake. eh ternyata gue nemu profil facebooknya. ah, gue nekat aja kirim message, minta kesediaannya buat diwawancara. eh, ga sampe satu jam kemudian udah dibales!

respon positifnya bikin gue girang setengah mati, apalagi gue dikasih nomor hapenya juga. beberapa saat kemudian, setelah harap-harap cemas kalau jam setengah sepuluh itu belum terlalu malam buat beliau, gue memutuskan buat nelepon dan bikin janji wawancara. eh, pas gue bilang, "i hope it is not too late to call...", malah dibales, "okay, we can talk now." edan! untung gue bisa ngeles dengan bilang kalo gue pengen ketemu dia langsung. janjianlah gue buat ketemuan di kantornya minggu depan, pas banget dengan hari di mana gue ga ada kuliah.

baiklah, ini berarti gue ga bisa lagi menunda-nunda beli perekam suara yang nggenah. dan itu berarti mengucapkan selamat tinggal pada promosi beli satu gratis satu produk soap and glory-nya boots, yang udah bikin gue jatuh cinta sekaligus terancam bangkrut.

dan hari ini sepertinya gue bisa tidur sebelum tengah malam.

alhamdulillah.

Sunday, 17 October 2010

tentang uang

spoiler alert: postingan kali ini, meskipun memiliki satu tema utama, isinya akan sangat random.

1. ketika pergi ke tempat belanja di mana barang-barangnya bisa ditawar, make sure that you are loaded (dalam hal pundi-pundi uang, tentunya). di tempat semacam ini, there is no such thing as window-shopping. lapar mata bisa mengalahkan segala tekad untuk bisa berhemat. hal ini berlaku di seluruh dunia.

2. dolar amerika serikat adalah mata uang paling versatile untuk dibawa melancong ke luar negeri, karena pasti diterima di konter penukaran uang (di baris pertama, lagi!). tapi pastikan uang kertasnya masih licin dan mulus tanpa lipatan, ya. usahakan juga nominal uangnya besar, 50 atau 100. kalau lebih rendah, nilai tukarnya juga lebih rendah... *ga mau rugi

3. dolar amerika serikat adalah mata uang resmi di timor leste. waktu gue ketemu anak unpas asal timor leste di lomba debat lspr, dia bilang, "kalau kamu kerja satu tahun di timor leste, lalu pulang ke indonesia, kamu pasti bakal kaya-raya!"

4. berlawanan dengan dolar amerika serikat, mata uang rupiah susah ditukar kalau perginya sedikit lebih jauh dari negara tetangga yang cuma berbatasan darat atau laut. di malaysia dan singapura, rupiah masih diterima di konter penukaran uang. tapi di thailand ternyata hal itu tidak terjadi, saudara-saudara! jadi, waktu gue sedang miskin baht, dengan terpaksa gue menukar sisa dolar, euro, dan... ringgit! hahaha. padahal semua mata uang itu gue ga punya nominal yang lebih gede dari lima puluh, tapi ya mau bagaimana lagi...

5. untuk melancong di negara-negara di asia tenggara, mata uang dolar amerika memang yang paling aman untuk dibawa-bawa. tapi, kalau mau bepergian ke negara-negara tetangganya thailand, bawa baht juga oke kok. menurut pengalaman temen gue, yang kebetulan orang indonesia asli tapi lagi bertandang ke laos, dia pernah ditanya mau bayar pakai mata uang lokal atau baht, karena dia dicurigai berasal dari thailand... hehehe.

6. saat berlibur ke manapun, selalu usahakan kunjungi tempat yang ga perlu bayar tiket masuk. ingat saja ini: untuk pergi ke sana saja sudah (hampir pasti, kecuali dianterin) keluar ongkos, kalau untuk masuknya harus bayar lagi, the place is better be worth it. sudah cukup gue diporotin sama museum botol di pattaya yang harga tiket masuknya 200 baht seorang, sementara isinya cuma tiga ruangan penuh botol berisi bangunan-bangunan mini. tau gitu mending sekalian ke ripley's.

7. menawar itu tidak dosa! yah, kecuali nawar makanan di restoran atau barang di mall. selalu mulai dengan 40-50 persen dari harga yang ditawarkan, terus naik sedikit-sedikit. bisa juga tanya, berapa harga pas yang mereka mau kasih. misalnya, ada sepatu super keren yang harganya seribu baht. tawar sekitar 400-500 baht, lalu tanya harga pasnya berapa. tawar dengan selisih seratus baht. masih terlalu rendah? tawar dengan selisih lima puluh. lalu dua puluh lima. masih terlalu mahal? senyum saja, terus tinggalin tokonya... hahaha.

8. pelajari rute bus. seringkali, alat transportasi yang satu ini bisa lebih murah daripada kereta dalam kota, angkot, atau bahkan taksi. maklum, jauh dekat, sekali jalan tarifnya flat.

9. selalu simpan uang kecil di dompet khusus recehan, terpisah dari dompet utama. selain supaya dompet utamanya ga bulging karena kepenuhan koin, dompet receh ini juga berguna saat kita perlu mengeluarkan uang di tempat umum, misalnya bayar ongkos bus atau jajan di pinggir jalan.

10. selalu sediakan uang kertas dengan besaran yang cukup untuk naik taksi pulang ke rumah, di saku jaket atau celana. yah, hitung-hitung pencegahan kalau terjadi hal-hal di luar rencana. kalau uangnya tidak terpakai sampai jaket atau celana itu sudah waktunya dicuci, ya syukur alhamdulillah... jangan lupa dikeluarkan dari saku dan dikembalikan ke dompet. hehehe.

11. selalu sedia uang koin sepuluh baht. ini tips yang sangat lokal, tapi akan sangat berguna. gue udah berkali-kali kehabisan uang sepuluh baht, dan hasilnya adalah kesulitan waktu mau beli tiket bts sekali jalan, atau cuci baju pakai coin laundry yang hanya terima kelipatan sepuluh baht. kalau punya uang koin dengan nominal yang lebih kecil, gunakan itu untuk bayar ongkos bus. kondekturnya ga bakal pundung, kok.

12. kalau melancong ke luar negeri yang kebetulan tidak berbahasa inggris, tapi kira-kira menarik untuk dijadikan tujuan belanja heboh, belajarlah berhitung (dan menawar) dalam bahasa setempat. selain menambah kosakata baru, para pedagang setempat bisa "tiba-tiba" ngasih diskon ekstra kalau kita "berusaha" menawar dengan bahasa ibunya. this is my homework as well, karena sejauh ini gue baru bisa nawar tuk-tuk untuk pulang ke rumah... hahaha.

Tuesday, 14 September 2010

aduh, maaf!

"maaf, permisi" ya mbak, "sumimasen" itu dipakai kalau anda nabrak troli belanja orang di jepang, bukan di thailand.

Thursday, 19 August 2010

"barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan"

Merasa familiar dengan kalimat itu?
Di Indonesia, kalimat yang banyak tampil di kuitansi pembelian barang itu sudah terlalu sering jadi senjata ampuh bagi penjual (apalagi yang nakal) dan kartu mati bagi pembeli (terutama yang sial). Jadilah nyokap gue, dengan pengalaman profesionalnya sebagai Quality Control paling bawel sedunia, selalu rajin menasihati gue untuk "teliti sebelum membeli". Efek sampingnya adalah gue jadi orang yang picky minta ampun, dan tidak terbatas dalam hal belanja, hahaha.

Sebetulnya sih tidak semua barang yang sudah dibeli itu "tidak dapat ditukar atau dikembalikan". Waktu gue SD, gue pernah dapet sepatu warna putih dari Sinterklas (yep, my mum brought me to an event in a mall where we can meet Santa Claus and he will gave us presents because we were "good kids"), tapi ternyata kegedean satu nomor. Hari berikutnya, sepatu itu tiba-tiba ukurannya pas, karena nyokap balik lagi ke toko buat nuker itu sepatu. Salah satu contoh lain bahwa barang yang sudah dibeli "bisa dikembalikan" bisa dilihat di film My Name Is Khan, waktu Shahrukh Khan bilang ke anak tirinya, "return policy only fourteen days". Oprah Winfrey, yang sering bahas tentang orang Amerika yang kebanyakan belanja, juga sering nampilin orang-orang yang cerita kalau mereka akhirnya ngembaliin barang yang udah dibeli setelah sadar kalo sebenarnya barang yang dibeli itu ga penting (-penting amat).

Beralih dari return policy, pernah dengar istilah culture shock? Biasa dialami oleh orang-orang yang baru datang ke tempat yang baru dengan budaya yang berbeda - dalam bahasa Indonesia biasa disebut gegar budaya?
Nah, di sini, gue mengalami hal yang serupa tapi tak sama: customer shock.

Sebelum berangkat, gue beli buku Rp. 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura-nya Claudia Kaunang. Dari sana gue mengenal Boots, toko produk kosmetik dan perawatan diri yang berbasis di Inggris Raya tapi pabriknya ada di Thailand. Toko ini sepertinya sangat menyenangkan untuk penggemar body care product macam gue (yang sejauh ini hanya bisa ngeceng barangnya, tapi begitu liat price tag-nya langsung mundur). Sampai sebelum pindahan pun, gue ga beli apa-apa setiap kali mampir ke Boots. Gue cuma diam-diam mencatat nanti mau beli apaan, dan setiap kali mampir, daftarnya makin panjang, hahaha.

Anyway, sehari setelah pindahan dan menyadari kalo gue ga punya sampo, akhirnya gue membulatkan tekad untuk pergi ke Boots dengan misi membeli toiletries dan perkakas kecantikan. Boots sendiri banyak banget cabangnya di Bangkok, hampir di setiap pusat perbelanjaan ada deh kayanya. Mampirlah gue ke Boots di gedung Tesco Lotus Rama I, yang cuma sepuluh menit naik bus nomor 113 atau 47 dari kampus, dan lima menit naik tuk-tuk ke apartemen (tawar dulu sampe supirnya mau dibayar 20 baht :D). Sesampainya di kamar, gue langsung nyobain sunblock muka yang baru dibeli. Nah lho, kok warnanya beda sama yang gue punya sekarang? Dem, ternyata sunblock yang gue beli itu warnanya putih, meskipun di kemasannya bilang warnanya "natural" dan bukan "white". Yee, padahal kan gue sengaja bela-belain beli itu seharga dua ratus sekian sekian baht karena bisa jadi tinted moisturiser juga. Aduh gimana yes, mubazir dong?

Ternyata tidak, saudara-saudara!
Kegundahan hati gue berakhir seketika saat gue membalik bukti belanja dan membaca,
"We will be happy to exchange for merchandise or give a refund if the product is returned in good condition within 30 days of purchase. Please retain this receipt and show to the store where you made this purchase."
Wah, bukan sehari dua hari atau satu minggu, bahkan lebih dari return policy sepatu di film My Name Is Khan! Hore!

Maka, pergilah gue dua hari kemudian ke Boots, dengan si sunblock yang masih terpajang manis di kotak kemasan. Maksud hati sih mau nuker sunblock, tapi cemas juga takut ditolak dengan segala macam justifikasi sepihak. Eh, ternyata mas-mas pharmacist-nya baik banget! Dengan bahasa Inggris yang fasih, dia bantuin gue milih sunblock baru setelah gue bilang, "I bought this two days ago but it has different colour with the one I already have, can I exchange it?". Dia bahkan bilang, gue boleh minta refund kalo gue mau. Wow, diganti uang tunai seharga barang waktu dibeli, siapa menolak?

Singkat cerita, gue ga nemu warna sunblock gue yang lama, jadilah gue minta refund. Yay, fresh money - uang segar! :D

Pas lagi nunggu duit refund, tatapan gue terdampar di sebuah pamflet di kasir. Gue sih awalnya ga ngerti isi pamfletnya (maklum, buta huruf), tapi ternyata ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Pembelian di atas sekian baht dapat bonus senilai sekian, bisa pilih satu dari lima set sampel produk kosmetik yang tersedia. Dan pembelian di atas sekian sekian baht (dua kali lipat yang pertama) bonusnya lebih seru lagi. Nah lho, gue kan kemarin ini belanjanya lebih dari yang sekian sekian, tapi kok ga dapet bonus? Komplainlah gue ke si mas-mas pharmacist, dan dia langsung minta maaf sedalam-dalamnya dan langsung nawarin gue pilihan bonus yang tersedia.

Gue melirik satu set yang ada tinted moisturiser-nya dengan penuh damba, dan mas-mas pharmacist dengan baik hatinya mengizinkan gue membuka plastik dan ngetes warna si tinted moisturiser itu. Pas gue tanya apa ada warna lain, dia menghilang buat ngecek, oh ternyata ga ada warna lain. Gue tanya lagi apa ada set lain yang juga berisi si tinted moisturiser, dia ke belakang lagi, dan balik lagi dengan tampang apologetik sambil bilang kalo stoknya habis. Ya sudah, ambil yang ada di depan mata saja deh jadinya.
Aduh, makin ga enak hati deh jadinya, setelah sebelumnya menyangka kalo gue ga bakal bisa exchange barang apalagi refund. Maaf ya mas, saya sudah jadi pembeli yang galak dan berprasangka buruk..

Tapi cerita ini belum selesai, karena hari ini tanggal sembilan belas Agustus. Nah lho, apa hubungannya?
Jadi begini saudara-saudara sekalian, karena belanjaan gue itu lumayan banyak, gue dikasih tiga kupon diskon masing-masing senilai 250 baht, yang berlaku buat belanja produk skincare (lokal buatan Boots) minimal 300 baht. Tapi kuponnya ga bisa digabung, alias hanya berlaku satu kupon per transaksi. Wow, tampak lumayan. Tapi karena hari ini hari terakhir, kuponnya harus dibelanjakan kalau tidak mau tersia-siakan.
Lirik punya lirik, merk produk skincare yang di-cover sama kupon ini ada empat, dan dua di antaranya adalah produk anti-aging. Buset, gue kan masih muda belia. Skip. Jadi ada dua pilihan tersisa, tapi kok ga ada yang harganya pas 300 baht? Kalau ga dua ratusan, langsung loncat ke 350-an. Nemu merk yang tampaknya oke, tapi harganya 299 baht - kalo mau beli dua produk bakal habis minimal 400. Skip! Wah, tinggal satu merk yang tersisa, dan dia punya body lotion dan body butter yang harganya 350 baht. Cucok nih, tinggal dibeli satu-satu aja, biar semua kuponnya kepake. Ga apa-apa ya mas, saya ga licik kok, saya hanya berbelanja dengan strategi... hehehe.

Eh, tunggu dulu. Body lotion yang gue beli ini punya khasiat whitening dan SPF 30 toh? Berarti whitening sunblock - yang juga gue beli kemarin - bakal ga guna dong? Tanya ah, boleh minta refund lagikah? Wah, ternyata mas-mas pharmacist yang ramah itu bilang boleh! Hore lagi! Refund tiga ratus baht dibayar tunai! :D