Tuesday, 7 September 2010

good food, good mood

terus terang, gue bukan ahli masak. kalo di rumah pun paling banter masak air atau mi instan. atau kalo lagi rajin dikit, boleh deh masak pancake atau spaghetti. abis ya gimana, gue ga ada kesempatan masak karena tiap hari udah ada makanan bikinan pembantu. *berkelit

selama menjadi educational refugee di bangkok sini, tanpa masakan buatan rumah, otomatis gue harus menyiapkan segala kebutuhan konsumsi sendirian. untungnya, nyokap gue sangat pengertian: gue dibekali satu kardus supermi dan setengah kilo abon sapi. tidak untungnya, di apartemen gue ga ada dapur, jadi si supermi itu nyaris tidak berguna. gue pun harus mengabari kondisi tersebut ke nyokap gue, yang awalnya berencana mau masak macem-macem selama nengokin gue di sini bulan oktober nanti. tentunya tak lupa untuk memesan satu kardus popmie sebagai pengganti supermi yang terancam menganggur.

pada awalnya sih gue ga terlalu puyeng soal makanan, tinggal beli makan siang di kantin, makan malam bisa beli di luar atau dibawa pulang. bangkok ga pernah kekurangan makanan, tinggal lirik kanan kiri sedikit bisa lihat penjual makanan di mana-mana. harganya? jangan ditanya, murahnya bisa bikin geleng-geleng kepala! dengan harga sekitar sepuluh ribu rupiah, satu mangkok mi kuah dengan daging (bukan baso) sapi sudah bisa didapat, porsinya gede banget pula. mau yang agak mahalan dikit? there you have it, the sky is the limit!

tapi kemudian gue mikir... masa iya gue mau begitu terus selama empat bulan? apalagi waktu bulan puasa, pengen lah ya gue makan nasi panas di pagi buta. dan jrengjrengjreng... linda pun muncul sebagai penyelamat gue ketika dia bilang, "nih, lo bawa aja rice cooker cowo gue! bisa buat kukus-mengukus juga lho..."

baiklah... tak ada kompor, penanak nasi pun jadi!

waktu si penanak nasi pinjaman ini berhasil menuntaskan misi pertamanya, ternyata gue masak nasinya kebanyakan. yasudah deh, nasinya gue masukin ke kulkas. pas mau dimakan, kan nasinya jadi kering tuh, harusnya bisa dikukus sih tapi gue males soalnya pasti bakalan lama. biar praktis, gue taruh aja nasi kering itu di wadah penanak nasinya, terus gue tambahin air dan abon. eh, berhasil!

sejak saat itu, gue berpikir buat benar-benar memakai si penanak nasi ini buat masak, bukan cuma nasi belaka, tapi buat bikin lauk-pauknya juga. cuma apa mau dikata, dengan keterampilan memasak yang seadanya, gue ga bisa masak yang heboh-heboh, ayam kukus lemon misalnya. tapi gue ga kehabisan strategi dong... gue memutuskan untuk memasak nasi campur.

kelak, segala bahan baku akan dimasukkan tumplek plek langsung semuanya ke dalam rice cooker, dan mereka akan kompak matang bersama-sama. ga usah pusing soal rasa, cukup pakai bumbu instan - entah itu soup seasoning atau seasoning mix alias bumbu siap masak. biar makanannya agak bergizi, tinggal ditambah sayur mayur saja. jangan lupa buah dan susu kedelai satu kotak, biar empat sehat lima sempurnanya lengkap. dengan porsi yang cukup untuk satu kali makan pas buka puasa (atau dilebihin dikit biar bisa buat sahur sekalian), gue bisa irit sabun cuci piring dengan makan langsung dari rice cooker, hahaha.

selain percobaan nasi abon (yang jadi mirip bubur tapi tetap enak), gue juga udah berhasil nyoba masak nasi pakai ayam goreng yang disuwir (akhirnya jadi mirip nasi tim, yang juga enak bangets). terakhir, gue nyoba masak beef noodle soup, dengan bahan mi basah + daging sapi iris + bumbu kuah sup rasa sapi, yang hasilnya mantaps. gue juga udah berhasil mencoba fitur kukus-mengukusnya, dalam rangka menghangatkan makanan hasil take away dari kbri. dan sekarang gue merasa sangat bahagia punya rice cooker di apartemen, masak-memasak jadi mudah dan sehat, karena gue ga masak goreng-gorengan... hohoho. apalagi, rice cooker pinjaman ini punya prestasi yang lumayan: sejauh ini, dia dipakai buat masak apapun belum pernah gagal! me loves my fail-proof rice cooker!

oh, dan omong-omong, gue tadi mampir ke tesco lotus di chamcuri square, maksud hati mau membeli lauk pauk untuk buka puasa. eh, ternyata malah ngiler macem-macem, dan pandangan gue tertambat pada sepinggan deep fried fish sausage, harganya 30 baht saja. pucuk dicinta ulam tiba nih, gue kan lagi ngidam pempek dan otak-otak. eh, setelah dicoba, ternyata makanan ini enak sekaliiii.... banyak banget pula. oh sosis ikan goreng, kau sungguh menjanjikan... gue sanggup deh ditantang satu minggu makan nasi dengan hanya engkau sebagai lauknya.

intinya mah, perut kenyang hati senang, pundi-pundi pun tenang... hehehe.

saatnya mengerjakan essay kebudayaan thailand DAN seminar komunikasi!
meh, implikasi bolos seminggu demi debat.

identitas

hari ini gue ngambil kartu mahasiswa di siam commercial bank.

nah lho, ngambil kartu mahasiswa kok di bank?

jadi begini saudara-saudara, kartu pelajar mahasiswa universitas chulalongkorn itu ternyata bisa berfungsi sebagai kartu atm. ga bisa dipakai belanja karena tidak merangkap kartu debit, tapi ya lumayanlah. mirip sama kartu mahasiswa di kampung halaman (waktu jaman baru masuk kuliah, ehm, empat tahun yang lalu).

reaksi pertama: yay, akhirnya gue resmi menjadi mahasiswa universitas chulalongkorn yang sebenar-benarnya! gue bukan lagi orang asing yang pakai seragam dan numpang kuliah... hahaha. jadi bisa beli kartu pass buat skytrain dan mrt dengan harga pelajar deh, huree.

reaksi kedua: gue makin meyakinkan deh kalo mau nyamar jadi orang thailand. tampang udah mirip, pake seragam universitas setempat, kartu identitas mahasiswa juga punya. yang kurang tinggal kemampuan merespon pertanyaan tukang ojek di tengah perjalanan menuju kampus... hohoho.

oke, setelah riang gembira sesaat, tiba-tiba gue baru nyadar kalau si kartu pelajar ini tidaklah sendirian.

eh eh eh, ada buku tabungan! padahal kan gue udah punya rekening bank - di bank yang sama! - tiga minggu yang lalu waktu lagi miskin-miskinnya dan butuh beasiswa. tapi ternyata ga masalah tuh punya dua rekening atas nama orang yang sama di cabang yang sama... paling ya konsekuensinya si rekening gue yang baru ini bakal kosong melompong aja. untung deh.

terus terus, lirik punya lirik, ternyata masa berlaku kartu mahasiswa gue adalah... hanya selama semester ini, alias mulai sembilan agustus sampai duapuluhlima november!
asemm... berarti gue dapet kartu pelajarnya telat sebulan dong.

ketemu cinta lama

takuya kimura aw aw aw. kimu-taku aishiteru. <3 *cinta lama masa remaja.

Sunday, 5 September 2010

nyam!

mentang-mentang seharian ini berkutat sama blog, dan baru beres ganti layout setelah dikerjain sejak ashar, sekarang gue malah posting sambil makan. terlalu berdedikasi... ckckck.

anyway, setelah terbengkalai selama lebih dari lima jam sejak waktu buka puasa,akhirnya gue menyentuh mesin penanak nasi juga. di dalam sana, telah menanti sebuah hidangan yang terdiri atas tiga bahan dasar. pertama, nasi yang dimasak sejak kemarin tapi belum disentuh gara-gara kekenyangan buka puasa di kbri hari sabtu. kedua, kuah sup kimlo yang dibawa pulang dari kbri. ketiga, sepotong ayam goreng yang disuwir-suwir, yang asal-usulnya sama dengan si kuah kimlo. hasil akhirnya ternyata oke sekali saudara-saudara, bagaikan nasi tim!

sebenernya sih gue mencanangkan si nasi campur (atau tim?) ini untuk dua kali makan, pas buka sama sahur. soalnya, hari sabtu itu gue masak nasi lumayan banyak, dan sampai nasinya matang gue ga tau kalo di kbri ada acara buka puasa bareng, hahah. tapi apa daya, ketika akhirnya si nasi ini siap dimakan, malah gue cuekin dulu demi perwajahan si blog. teruuuus, ketika akhirnya gue udah siap untuk makan, eh ternyata piring sendok garpu kotor semua. sial. aduh males nyuci piring, habis makan kan kotor lagi, terus nanti harus dicuci lagi...

ya udah deh, sekalian aja makan nasinya dari rice cooker, biar nyucinya barengan sama piring. hehehehe.

aduh senangnya merantau di ibukota negara asing. apalagi kalau kedutaan besarnya ga jauh dari apartemen. apalagi pas bulan puasa. segala godaan untuk hidup tidak sehat - dengan jajan di pinggir jalan atau makan sticky rice berlauk ayam goreng tepung - bisa ditangkis dengan mudah. belum lagi misi penghematan besar-besaran yang juga dapat tercapai. kbri selalu bisa membuat gue senang bukan kepalang deh, hihihi.
Ya Allah, murahkanlah rezeki orang-orang kbri yang sudah memberi makan mahasiswa berdaya beli rendah macam gue ini... biar mereka ga pada korupsi. aamiin.

ganti kulit

sejak gue mulai punya blog pada tahun 2004, personalisasi blog adalah urusan yang paling menyenangkan sekaligus bikin ribet. namanya juga blog pribadi, jadi tampilan juga harus mencerminkan kepribadian dong (naon sih).

tapi, di masa itu, niat buat ganti layout (dulu gue nyebutnya dengan panggilan sayang "skin") akan memunculkan konsekuensi panjang: pilih-pilih layout blog yang oke, kalo udah dapet yang kira-kira keren maka di-preview satu-satu sebelum di-download. muncullah dia dalam bentuk kode-kode html yang memusingkan, yang masih harus diutak-atik lagi biar kesannya lebih personal. jangan lupa masukin kode-kode tambahan buat isi sidebar kaya shoutbox, hit counter, dan semacamnya. habis itu, di copy-paste deh kodenya ke bagian "edit html". kalau berhasil, ya hore. kalau preview-nya berantakan? ya ngedit lagi... huhuhu.


(bagian yang paling bikin pusing kalau mau ganti template)

dulu, personalisasi blog berarti memulai perburuan di blogskins, buka kode html pakai notepad, terus edit-edit skin, baru diujicoba di blogger. oh ya, untuk urusan header pic dan lain-lain yang berurusan dengan gambar, gue harus upload gambar-gambar yang berkepentingan dengan skin itu ke akun pribadi gue di situs hosting gambar (mine was in photobucket). karena pada masa itu internet masih termasuk kebutuhan sekunder yang tidak disediakan oleh nyonya rumah, gue bisa nangkring berjam-jam di warnet sebelah sekolah. tapi, karena bikin boros, akhirnya gue ngedit skin secara offline di rumah pakai microsoft frontpage sebelum pergi ke warnet buat preview. selain itu, biar edit-mengedit jadi lebih praktis, gue juga nyimpen alamat-alamat situs buat dipasang sebagai link, juga kode html buat tagboard, comments, hit counter, dan lain-lain. jadi, kalau suatu waktu nemu skin yang oke, gue tinggal copy-paste kode-kode itu dan bisa langsung preview di blogger.

meskipun merepotkan, ternyata berkutat dengan kode-kode html ini ada manfaatnya juga. waktu sma dulu, gue ada pelajaran teknik informatika (padahal mah komputer doang), dan salah satu materi yang diulang-ulang terus dari kelas dua sampai mau lulus adalah kode html. maka, buat gue dan diani, ini jadi soal yang paling cincay... hehehe.

setelah lamaaaaa banget ga ngeblog, gue jadi agak gagap ngedit layout. mau ganti skin pun jadi males, keinget ribetnya urusan sama kode html, dan desain di blogskins juga makin garing.

tapi ternyata, ngeblog di tahun 2010 lebih menyenangkan, saudara-saudara!
situs-situs penyedia layout atau template bertebaran di mana-mana, dengan desain yang sangat variatif, dan tersedia untuk macam-macam situs blogging seperti blogger dan wordpress. ga perlu daftar, pengunjung bisa langsung lihat demo (atau preview) langsung si layout. kalau suka, tinggal download. gratis!

dan yang lebih menyenangkan lagi, si layout ini nggak lagi muncul dalam wujud kode html yang sama sekali tidak bersahabat secara visual. dengan format .xml, layout ini tinggal di-upload ke blogger. kebutuhan edit-mengedit di bagian "edit html" pun jadi sangat minor, karena blogger sekarang punya bagian "page elements" yang sangat membantu tata letak halaman. yihay!

maka, dengan tekad bulat dan hati gembira, gue mendedikasikan hari ini untuk merombak wujud blog ini! hohohoho. berikut sebagian contoh template yang udah gue download dan ujicoba :)

(I love this one, tapi kok rasanya kurang "bangkok" gimanaa gitu... hahaha)


(kalau pakai yang ini, tinggal personalise background-nya aja, tapi ternyata background image-nya repeated gitu, bikin jelek dekor.)


(yang ini lumayan, tapi gambar entah-apa di sudut kiri atas itu rasanya agak ga nyambung... tapi kalo dihapus malah jadi garing.)


(I kindof like the simplicity, tapi kalo bisa pake header pic kayanya bakal lebih keren.)



p. s: tujuh jam kemudian, akhirnya gue memutuskan untuk pakai layout yang pertama, setelah nambah-nambahin widget dan ganti judul blog. fuhh! akhirnya gue bisa makan malam dengan tenang. eh ya ampun, besok kan ada make-up class jam sembilan! -_-

Thursday, 26 August 2010

warning: tulisan ini (agak) serius.

Sejauh yang saya tahu, media massa itu punya kekuatan yang dahsyat. Kalau dia raja, mungkin bisa ditambah dengan kata "maha" di depan kata dahsyat, untuk membedakannya dari acara musik di televisi. Kekuatan itu punya daya yang besar untuk mempengaruhi siapa-siapa yang menikmatinya. Seperti apa dan bagaimana kekuatan itu bisa jadi begitu berpengaruh, membuatnya jadi begitu menarik untuk dikaji (dan menakutkan untuk Menkominfo). Maka, di perpustakaan kampus saya, waktu berburu contoh-contoh skripsi sebagai referensi mata kuliah Seminar, sudah tidak aneh rasanya menemukan judul yang dimulai dengan "Pengaruh Media XXX terhadap YYY" atau semacamnya.

"Media" dan "influence" sudah menjadi kata kunci atas rasa penasaran banyak orang, yang kemudian termanifestasi dalam penelitian-penelitian. Saya juga terjangkit rasa penasaran itu. Tapi, alih-alih penasaran tentang bagaimana "media mempengaruhi", saya lebih tertarik tentang apa (-siapa?) yang "mempengaruhi media". Jika media bisa punya kekuatan mempengaruhi yang dahsyat bagi khalayaknya, yang punya kekuatan untuk mempengaruhi media pasti sakti mandraguna (atau, paling tidak, banyak duitnya).

Berada di Thailand dan menikmati sajian media massa setempat adalah pengalaman yang menarik. Televisi mungkin sebuah pengecualian, karena di apartemen saya tidak ada televisi. Radio juga mungkin iya, karena bahasanya saya tidak pahami. Koran lokal juga iya, karena saya bahkan tidak bisa baca hurufnya.

Sejak sampai di negeri gajah putih ini, saya hampir tidak pernah menonton televisi. Sekalinya nonton, yang ada di layar kaca adalah dua ekor panda asal kebun binatang di Chiang Mai, yang aktivitasnya disiarkan langsung oleh Panda Channel dua puluh empat jam sehari. Waktu saya nonton, panda-panda itu cuma lagi tidur sambil menggeliat, tapi Linda terus-terusan bilang, "aih lucu bangeeeeeet...". Err... I wonder why Thai people loves panda better than elephant.

Walhasil, saya banyak beroleh informasi dari internet. Acara televisi dan radio bisa di-streaming, dan koran berbahasa Inggris bisa dibaca halaman elektroniknya. Untuk menikmati akses internet tanpa batas di apartemen, saya harus membayar ekstra 400 baht setiap bulan - harga yang lumayan untuk kecepatan mengunduh rata-rata seratus kilobyte per detik. Yang mahal justru tarif listriknya, yang konon untuk pemakaian mahasiswa alakadarnya saja bisa mencapai 1.000 baht sebulan. So much to spend to stay updated? Welcome to Thailand...

Singkat cerita, berbekal apa yang sudah dan sedang dikonsumsi dari media setempat, saya terpicu untuk membuat sebuah penelitian. Tentang kekuatan macam apa yang begitu berdaya untuk mempengaruhi isi media massa, apa yang sudah diperbuat oleh kekuatan itu, dan apa yang terjadi kemudian. Tapi saya tidak sedang membicarakan konglomerasi. Ada kekuatan lain, yang di Indonesia dahulu pernah begitu berpengaruh di masa Orde Baru. Inilah, menurut saya, yang menjadi suatu hal yang sama-sama ada di Thailand dan Indonesia. Mudah-mudahan, hal ini juga bisa menjadi salah satu signifikansi yang membuat penelitian saya kelak memiliki nilai akademis tinggi.

Rasa penasaran pribadi ini sedikit-sedikit mulai terfasilitasi. Saya bercita-cita menghabiskan tiga bulan sisa waktu di Thailand untuk memburu jawaban-jawaban atas rasa penasaran itu. Supaya kelak, saat pulang nanti, hasil buruan itu bisa membantu saya mengakhiri karir akademik sebagai mahasiswa jurnalistik.

Nanti, setelah resmi tamat kuliah dan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi, saya mau mencari rejeki (dan jodoh? hahaha) di luar Indonesia. Deutsche Welle sepertinya seru, Al Jazeera boleh juga. Supaya bisa bertahan hidup di belantara lalu lintas negara tujuan, saya mau belajar naik sepeda. Saya akan tinggal di apartemen studio dengan balkon dan pemandangan lampu kota. Di waktu senggang, saya mau ikut kelas yoga. Di akhir pekan, saya akan pergi bersuka ria. Saya juga akan rajin menabung, supaya bisa centil-centilan di spa, dan tidak sengsara di hari tua. Mumpung bulan puasa, saya mau jadi ekstra manja.

sahur, sahur sendiri...

hari senin, dapat pinjaman rice cooker. gembiranya bukan kepalang. dasar orang asia, ujung-ujungnya pasti pengen makan nasi.

hari selasa, baru nyuci rice cooker dan memandanginya dengan jumawa, sambil mengkhayal nanti mau masak apa. beli beras dua kilo di tesco lotus. karena gue pecinta produk dalam negeri, gue beli beras thailand dong. hehe.

hari rabu, untuk pertama kalinya berhasil masak nasi di apartemen. tapi ga berhasil makan sahur pakai nasi panas gara-gara ketiduran dan baru bangun sepuluh menit setelah subuh. pas pulang lagi malamnya dan ga tau nih nasi kering mau diapain.

hari kamis, untuk pertama kalinya menggunakan mesin penanak nasi untuk memasak bubur, dan berhasil berhasil berhasil hore! biar penampilan dan rasanya makin menggoda, gue tambahin abon sapi yang diimpor dari pasar palasari. sebenernya gue agak-agak geuleuh gimanaaa gitu ya kalo makan abon, soalnya serpihan-serpihannya itu bikin piring bekas makan gue jadi tampak berbulu kaya rhoma irama, tapi yaudah lah ya. yang penting enak! yum yum!

p.s: gambar makanan sahur perdana gue di apartemen ini akan dimuat setelah subuh. hahahaha :))

puasa sambil kuliah part 1

ini minggu pertama gue puasa sambil kuliah, setelah sebelumnya libur khusus perempuan. hohoho.

kuliah performing arts minggu ini agak garing, karena om-om asal inggris yang datang minggu lalu ga datang lagi minggu ini. masih ngomongin romeo and juliet, kuliah kali ini diisi dengan screening beberapa adegan kunci dari dua versi film romeo and juliet (1968 dan 1997). tentu saja termasuk adegan cium-mencium. aduh, cobaan bulan puasa.

tapi bulan puasa juga membawa rezeki, karena pas hari senin mampir ke rumah linda buat minjem kipas angin, gue dipinjemin rice cooker sekalian. oh, senangnya bisa sahur nasi panas di apartemen! tapi tadi malam gue ketiduran dan baru bangun jam lima pagi, sial.
moral of the day #1: lebih baik sahur sekarang daripada ditunda-tunda sampai ketiduran.

bulan puasa kali ini godaannya banyak. dengan cuaca di atas tiga puluh derajat celsius pada siang hari, tidak ada yang lebih menggoda daripada iced thai tea dengan bubble yang harganya cuma lima belas baht. dan, tentu saja, hampir semua orang di pinggir jalan bisa minum dengan bahagianya. eh, ada yang lebih menggoda deng. tawaran jadi n1 adjudicator di sini. haha, i will be an adjudicator from chulalongkorn university!

maka dari itu, dimulailah petualangan gue di chulalongkorn english debating society. hari ini ada dua debat, mulai jam enam dan selesai jam sembilan. habis itu dinner sama empat anggota lain yang masih tersisa, terpaksa makan ikan bakar seharga 80 baht di restoran steak gara-gara tempat makan yang lain udah tutup semua, dan pulang naik taksi sesudahnya. sampai apartemen jam sebelas malam, wow. untung taksi dari sam yan ke rong mueang cuma 40 baht.

bulan puasa kali ini juga penuh dengan perjuangan. mau shalat di kampus ternyata susah, karena ga ada mushala di fakultas. kata staf di kantor sih ada, di chamcuri 5, tapi rada jauh. ah, malasnya. jadi kemarin numpang shalat di meeting room, dan hari ini pinjam ruang kosong di chamcuri 9 (gedung student center). tapi kedua ruangan itu ga berkarpet, dan lantainya agak-agak berdebu gitu. haduuuh.
jadi, moral of the day #2: besok beli koran, lumayan buat sajadah darurat. you can never be too prepared.

all in all, puasa hari ini menyenangkan. selesai kuliah thai culture, ada wawancara di kantor fakultas sama mahasiswa-mahasiswa dari jurusan advertising, thai program. mereka mau wawancara mahasiswa pertukaran buat tugas mata kuliah english interview, katanya. gue ga sendirian, tapi bareng malorie sama ken. para pewawancara ini bawa sesajen pula, sekotak manisan dan sekotak lagi mini crepes yang renyah. ada juga yang bawa semangka dan jambu, maksud hati buat cemilan pribadi tapi toh akhirnya dibagi-bagi. tapi karena belum waktunya buka puasa, gue harus berpuas hati hanya menyaksikan orang lain makan. eh, ternyata malorie sama ken cuma nyicipin sebagian sesajen doang, sisanya dikasih ke gue semua, dan masih banyak banget. ah, senangnya bisa berbuka dengan yang manis (dan gratis), hehehe.

sekarang sepuluh menit menjelang jam dua pagi. menu sahur hari ini, karena tadi ga sempat beli lauk di warung, adalah nasi dan abon.. mungkin tambah supermi biar ada kuahnya. supaya agak lebih bergizi, ada apel, susu kedelai, yoghurt stroberi, dan... honey stars! :D

selamat puasa teman-teman! foto-fotonya menyusul ya...

Thursday, 19 August 2010

"barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan"

Merasa familiar dengan kalimat itu?
Di Indonesia, kalimat yang banyak tampil di kuitansi pembelian barang itu sudah terlalu sering jadi senjata ampuh bagi penjual (apalagi yang nakal) dan kartu mati bagi pembeli (terutama yang sial). Jadilah nyokap gue, dengan pengalaman profesionalnya sebagai Quality Control paling bawel sedunia, selalu rajin menasihati gue untuk "teliti sebelum membeli". Efek sampingnya adalah gue jadi orang yang picky minta ampun, dan tidak terbatas dalam hal belanja, hahaha.

Sebetulnya sih tidak semua barang yang sudah dibeli itu "tidak dapat ditukar atau dikembalikan". Waktu gue SD, gue pernah dapet sepatu warna putih dari Sinterklas (yep, my mum brought me to an event in a mall where we can meet Santa Claus and he will gave us presents because we were "good kids"), tapi ternyata kegedean satu nomor. Hari berikutnya, sepatu itu tiba-tiba ukurannya pas, karena nyokap balik lagi ke toko buat nuker itu sepatu. Salah satu contoh lain bahwa barang yang sudah dibeli "bisa dikembalikan" bisa dilihat di film My Name Is Khan, waktu Shahrukh Khan bilang ke anak tirinya, "return policy only fourteen days". Oprah Winfrey, yang sering bahas tentang orang Amerika yang kebanyakan belanja, juga sering nampilin orang-orang yang cerita kalau mereka akhirnya ngembaliin barang yang udah dibeli setelah sadar kalo sebenarnya barang yang dibeli itu ga penting (-penting amat).

Beralih dari return policy, pernah dengar istilah culture shock? Biasa dialami oleh orang-orang yang baru datang ke tempat yang baru dengan budaya yang berbeda - dalam bahasa Indonesia biasa disebut gegar budaya?
Nah, di sini, gue mengalami hal yang serupa tapi tak sama: customer shock.

Sebelum berangkat, gue beli buku Rp. 2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura-nya Claudia Kaunang. Dari sana gue mengenal Boots, toko produk kosmetik dan perawatan diri yang berbasis di Inggris Raya tapi pabriknya ada di Thailand. Toko ini sepertinya sangat menyenangkan untuk penggemar body care product macam gue (yang sejauh ini hanya bisa ngeceng barangnya, tapi begitu liat price tag-nya langsung mundur). Sampai sebelum pindahan pun, gue ga beli apa-apa setiap kali mampir ke Boots. Gue cuma diam-diam mencatat nanti mau beli apaan, dan setiap kali mampir, daftarnya makin panjang, hahaha.

Anyway, sehari setelah pindahan dan menyadari kalo gue ga punya sampo, akhirnya gue membulatkan tekad untuk pergi ke Boots dengan misi membeli toiletries dan perkakas kecantikan. Boots sendiri banyak banget cabangnya di Bangkok, hampir di setiap pusat perbelanjaan ada deh kayanya. Mampirlah gue ke Boots di gedung Tesco Lotus Rama I, yang cuma sepuluh menit naik bus nomor 113 atau 47 dari kampus, dan lima menit naik tuk-tuk ke apartemen (tawar dulu sampe supirnya mau dibayar 20 baht :D). Sesampainya di kamar, gue langsung nyobain sunblock muka yang baru dibeli. Nah lho, kok warnanya beda sama yang gue punya sekarang? Dem, ternyata sunblock yang gue beli itu warnanya putih, meskipun di kemasannya bilang warnanya "natural" dan bukan "white". Yee, padahal kan gue sengaja bela-belain beli itu seharga dua ratus sekian sekian baht karena bisa jadi tinted moisturiser juga. Aduh gimana yes, mubazir dong?

Ternyata tidak, saudara-saudara!
Kegundahan hati gue berakhir seketika saat gue membalik bukti belanja dan membaca,
"We will be happy to exchange for merchandise or give a refund if the product is returned in good condition within 30 days of purchase. Please retain this receipt and show to the store where you made this purchase."
Wah, bukan sehari dua hari atau satu minggu, bahkan lebih dari return policy sepatu di film My Name Is Khan! Hore!

Maka, pergilah gue dua hari kemudian ke Boots, dengan si sunblock yang masih terpajang manis di kotak kemasan. Maksud hati sih mau nuker sunblock, tapi cemas juga takut ditolak dengan segala macam justifikasi sepihak. Eh, ternyata mas-mas pharmacist-nya baik banget! Dengan bahasa Inggris yang fasih, dia bantuin gue milih sunblock baru setelah gue bilang, "I bought this two days ago but it has different colour with the one I already have, can I exchange it?". Dia bahkan bilang, gue boleh minta refund kalo gue mau. Wow, diganti uang tunai seharga barang waktu dibeli, siapa menolak?

Singkat cerita, gue ga nemu warna sunblock gue yang lama, jadilah gue minta refund. Yay, fresh money - uang segar! :D

Pas lagi nunggu duit refund, tatapan gue terdampar di sebuah pamflet di kasir. Gue sih awalnya ga ngerti isi pamfletnya (maklum, buta huruf), tapi ternyata ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Pembelian di atas sekian baht dapat bonus senilai sekian, bisa pilih satu dari lima set sampel produk kosmetik yang tersedia. Dan pembelian di atas sekian sekian baht (dua kali lipat yang pertama) bonusnya lebih seru lagi. Nah lho, gue kan kemarin ini belanjanya lebih dari yang sekian sekian, tapi kok ga dapet bonus? Komplainlah gue ke si mas-mas pharmacist, dan dia langsung minta maaf sedalam-dalamnya dan langsung nawarin gue pilihan bonus yang tersedia.

Gue melirik satu set yang ada tinted moisturiser-nya dengan penuh damba, dan mas-mas pharmacist dengan baik hatinya mengizinkan gue membuka plastik dan ngetes warna si tinted moisturiser itu. Pas gue tanya apa ada warna lain, dia menghilang buat ngecek, oh ternyata ga ada warna lain. Gue tanya lagi apa ada set lain yang juga berisi si tinted moisturiser, dia ke belakang lagi, dan balik lagi dengan tampang apologetik sambil bilang kalo stoknya habis. Ya sudah, ambil yang ada di depan mata saja deh jadinya.
Aduh, makin ga enak hati deh jadinya, setelah sebelumnya menyangka kalo gue ga bakal bisa exchange barang apalagi refund. Maaf ya mas, saya sudah jadi pembeli yang galak dan berprasangka buruk..

Tapi cerita ini belum selesai, karena hari ini tanggal sembilan belas Agustus. Nah lho, apa hubungannya?
Jadi begini saudara-saudara sekalian, karena belanjaan gue itu lumayan banyak, gue dikasih tiga kupon diskon masing-masing senilai 250 baht, yang berlaku buat belanja produk skincare (lokal buatan Boots) minimal 300 baht. Tapi kuponnya ga bisa digabung, alias hanya berlaku satu kupon per transaksi. Wow, tampak lumayan. Tapi karena hari ini hari terakhir, kuponnya harus dibelanjakan kalau tidak mau tersia-siakan.
Lirik punya lirik, merk produk skincare yang di-cover sama kupon ini ada empat, dan dua di antaranya adalah produk anti-aging. Buset, gue kan masih muda belia. Skip. Jadi ada dua pilihan tersisa, tapi kok ga ada yang harganya pas 300 baht? Kalau ga dua ratusan, langsung loncat ke 350-an. Nemu merk yang tampaknya oke, tapi harganya 299 baht - kalo mau beli dua produk bakal habis minimal 400. Skip! Wah, tinggal satu merk yang tersisa, dan dia punya body lotion dan body butter yang harganya 350 baht. Cucok nih, tinggal dibeli satu-satu aja, biar semua kuponnya kepake. Ga apa-apa ya mas, saya ga licik kok, saya hanya berbelanja dengan strategi... hehehe.

Eh, tunggu dulu. Body lotion yang gue beli ini punya khasiat whitening dan SPF 30 toh? Berarti whitening sunblock - yang juga gue beli kemarin - bakal ga guna dong? Tanya ah, boleh minta refund lagikah? Wah, ternyata mas-mas pharmacist yang ramah itu bilang boleh! Hore lagi! Refund tiga ratus baht dibayar tunai! :D

Monday, 9 August 2010

first day school!

Bayangkan antusiasme Nemo si ikan badut kecil menjelang hari pertama sekolah.

Nemo di belantara lautan, gambarnya dari sini.

Sekarang, bayangkan si Nemo harus mengenakan seragam dengan kancing kemeja harus ada logo sekolahnya, pakai sabuk dan bros yang juga ada logo sekolahnya, tapi semua perintilan itu belum ada yang dia beli (memang seperti apa sih seragamnya?).

Bayangkan juga si Nemo baru datang ke sebuah anemon di belahan laut antah berantah yang, meskipun tetangga-tetangganya mirip dia, mereka bicara dengan bahasa ikan yang berbeda, sehingga dia cuma bisa mendengar "glup glup glup", dan kesulitan bahkan untuk memesan makanan di kantin, karena agamanya melarangnya makan daging babi.

Dan di anemon antah-berantah itu, dia belum punya tempat yang tetap untuk ditinggali selama masa kuliahnya yang relatif singkat, karena bilik anemon sewaan rata-rata harus disewa paling tidak setengah tahun lamanya. Padahal dia sudah menclok di anemon itu selama sembilan hari.
Dan si Nemo tidak punya uang untuk membayar deposit si bilik sewaan, karena sekolahnya masih butuh waktu sebelum menunjukkan bahwa mereka murah hati.
Jadi, ketika bangun di Senin pagi ini, Nemo gundah gulana tiada tara.

Sekarang, bayangkan gue sebagai Nemo. Tapi jangan bayangkan gue tinggal di anemon. Oke. Bagus.

Hari ini, si Nemo pergi sekolah dengan hati gundah karena belum punya rumah. Dia datang untuk membeli atribut seragam dan memeriksa jadwal kelas, karena hari ini tidak ada kuliah. Maka, dia memutuskan untuk menyusup ke dalam kelas manajemen marketing (semacam itulah), yang sebenarnya tidak diikutinya. Materi di kelas itu bukan sesuatu yang menarik perhatiannya, meskipun kelasnya sendiri menarik. Tapi si Nemo lebih tertarik dengan jurnalistik.

Tak hanya itu, dia harus pula meninjau bilik anemon sewaan yang jadi incaran, mudah-mudahan segala urusan dan negosiasi mulus lancar dan bisa segera pindah.

Urusan bilik anemon sewaan ternyata berakhir bahagia. Karena membayar separuh uang deposit di muka, si Nemo boleh pindah ke bilik itu secepatnya. Sisa separuh uang deposit dan satu bulan uang sewa di muka boleh dibayar kemudian setelah si Nemo mendapat dukungan sewarna rumput laut dari sekolah. Oh betapa senangnya si Nemo, kini ia hanya perlu membelanjakan dukungan yang didapat dari sekolah untuk membuat biliknya layak huni. Bukti pembayaran deposit dan salinan kontrak sudah di tangan, tinggal datang bawa badan dan barang-barang ketika rasa hati sudah ingin pindah.

Tapi mudah-mudahan ada pilihan yang lebih meringankan. Masih ada hari esok, dan semoga saja apa yang terjadi di hari esok membuatnya tidak perlu menyewa bilik anemon itu sama sekali.

Di akhir hari, si Nemo menyadari, bahwa ketika pulang ke rumah dia harus mengerjakan setidaknya dua pe-er: laporan keuangan harian dan posting blog. Tapi si Nemo senang, karena sudah membeli kartu pass untuk naik kereta langit, dan yang lain-lain juga.

Saturday, 7 August 2010

Kisah Raja yang Dipuja

Sebagai orang yang buta monarki, gue berangkat ke Thailand dengan pemahaman yang sangat minim tentang keluarga kerajaan. Di Indonesia memang ada sejumlah kerajaan dan kesultanan, tapi toh mereka bertahan dengan alasan yang cenderung kultural, tanpa pengaruh signifikan ke pemerintahan di tingkat nasional. Contohnya Kesultanan Yogyakarta. Tapi, berdasarkan hasil obrolan ilmiah (tsah!) sama Bu Eni Maryani, gue dapet info kalau Sri Sultan Hamengkubuwono X masih dianggap sebagai figur pemimpin yang "sempurna" di Yogyakarta, baik sebagai gubernur maupun raja. Makanya, cerita Bu Eni, segelintir orang Yogya nggak setuju Sri Sultan jadi Presiden. Mereka nggak rela rajanya dicela-cela, sehingga tidak bisa lagi dipuja, karena tidak lagi tampak sempurna.

Itulah sebabnya gue pengen bikin penelitian terkait keluarga kerajaan. Kenapa bukan tentang keluarga kerajaan? Karena topik itu tergolong sesuatu yang teramat sangat sensitif, seperti SARA, jadi agak beresiko dan susah diteliti. Lagipula, gue lebih tertarik dengan pengaruh keluarga kerajaan yang teramat besar, dan bagaimana itu mempengaruhi kehidupan orang-orang di sini. Misalnya, hari Kamis depan bakal ada Mother’s Day atau Hari Ibu, hari libur nasional untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Sirikit. Sejak gue sampai di Bangkok seminggu lalu, foto-foto sang ratu sudah banyak terpampang di seantero kota sebagai tanda penghormatan.

Raja Bhumibol Adulyadej, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn, dan Ratu Sirikit.
(foto diambil dari sini)


Gue belum sempat ngobrol banyak dengan temen-temen gue yang asli Thailand seputar keluarga kerajaan, terutama karena topik ini rawan banget kalo dibahas di tempat umum (kecuali lagi ada di tempat yang orang-orangnya cuma bisa bahasa Thai). Baru seminggu setelah gue di Bangkok, gue tahu kenapa Raja Bhumibol Adulyadej, atau Rama IX, begitu disayangi dan dihormati rakyatnya.

Menurut Tuk, temen gue yang asli Thailand, Rama IX adalah raja yang benar-benar berdedikasi. Beliau sudah jadi seperti ayah bagi seluruh rakyatnya. Maka, dengan alasan yang sama terkait dirayakannya Hari Ibu, Hari Ayah di Thailand dirayakan untuk memperingati hari ulang tahun sang raja.

Rama IX adalah raja yang memperkenalkan hujan buatan di Thailand, dan hujan yang pertama kali itu dia bikin sendiri. Kalau ada konflik di daerah pemerintahannya, sejauh dan seterpencil apapun, beliau akan datang sendiri untuk menenangkan keadaan. Sang raja juga menguasai semua bahasa daerah suku-suku di Thailand, jadi nggak ada cerita rajanya gagap komunikasi atau butuh penerjemah lokal. Waktu terjadi pertumpahan darah di Thailand tahun 1972 dan 1993, konflik reda seketika begitu sang raja membuat pernyataan publik, yang singkat tapi mengena, "Sesama orang Thailand tidak saling bunuh".

Jadi inget cerita Pompam, asisten dosen di kampus gue, kalau sampai sekitar sepuluh tahun lalu, Raja akan datang ke acara wisuda universitas-universitas negeri di seluruh Thailand. Bukan cuma hadir sebagai tamu kehormatan atau ngasih kata sambutan, tapi Raja bakal menyerahkan ijazah langsung pada para wisudawan. Karena alasan kesehatan, kegiatan ini akhirnya digantikan oleh putri sang raja. Maklumlah, satu kali acara wisuda bisa berdiri lama banget, tiga sampai lima jam nonstop!

Itu cuma sedikit dari banyak alasan kenapa Rama IX begitu dipuja "anak-anak"nya. Maka, jangan heran kalau ada lèse-majesté – hukuman berat bagi mereka yang melakukan penghinaan terhadap keluarga kerajaan. Bisa-bisa berurusan panjang lebar sama polisi dan berakhir lima belas tahun di penjara, tidak peduli pelakunya orang lokal atau pendatang. Tapi, kalau kata Tuk, orang-orang macam ini tidak akan dipenjara – mereka bisa jadi mati duluan di tempat karena dihakimi massa. Orang Thailand tidak rela kalau sosok yang begitu berjasa bagi kehidupan mereka dibicarakan keburukannya. Jadi, hati-hati dengan penggunaan kata บิดา (Bidā), yang artinya "father" atau "ayah" di ruang publik.

"Cinta pada 'ayah'-lah yang bikin negara ini (masih) bersatu," bilang Tuk.

p.s : Gue ga bisa buka halaman wikipedia yang isinya profil raja, diblokir karena isinya dianggap berbahaya. Tapi, ini dan ini lumayan banget buat tambahan informasi. Kalau Departemen Kominfo bisa punya kekuatan semacam ini, mereka bakal blokir apa ya?


Friday, 6 August 2010

lopburi tragedy

Rencananya, hari ini gue dan Linda mau pergi ke Lopburi.
Linda ini adalah pacar dari adiknya temen gue, yang rumahnya saat ini menjadi tempat penampungan gue untuk sementara. Dia mau ke Lopburi untuk urusan kerjaan, dan gue jelas lebih milih ikut dia daripada bengong di rumah atau diajak keliling kampus sama teacher assistant. Lumayan, bisa ketemu monyet-monyet.

Seperti biasa, perjalanan jauh selalu bikin gue ngantuk. Jadi tidurlah gue sepanjang jalan. Eh, tiba-tiba gue ngerasa mobilnya Linda ngerem mendadak. Begitu bangun, ada bagian belakang mobil pick-up nangkring tepat di depan muka gue. Walah, tabrakan!

Gue lirik ke kursi supir, Linda ga ada. Ternyata dia di luar mobil, dan tampak lagi marah-marah sama si supir mobil pick-up. Ga lama kemudian, dia buka pintu mobil. "You'd better go outside, I'm afraid the damage will start a fire," katanya. Terkantuk-kantuk, gue keluar dan akhirnya panas-panasan di pinggir jalan selama hampir dua jam.

Tuk, pacar Linda, sampai ke TKP ga lama kemudian. Sebelumnya, ada petugas dengan rompi bertuliskan "rescue", yang mampir untuk ngecek apa ada yang terluka. Untungnya sih semuanya sehat walafiat. Abis itu ada polisi, terus petugas asuransi yang datang untuk motret kondisi mobil dan ngurusin klaim kerusakan. Setelah mindahin barang-barang dari mobil Linda ke mobil Tuk, kami pergi ke pusat servis. Mobilnya sendiri berangkat ke pusat servis diantar mobil derek.

Sejak kecelakaan terjadi sampai mobil diderek, banyak pembicaraan terjadi di sana, dan semuanya ga gue pahami. Tapi satu yang terlihat jelas, Linda dan Tuk tampak bete berat. Linda orangnya lemah lembut banget, dan Tuk senang bercanda, tapi saat itu tampang mereka kusut luarbiasa. Sesaat setelah semua urusan dengan orang asuransi beres, Tuk mencetus, "Welcome to Thailand!"

Ternyata, menurut aturan lalu lintas di Thailand, kalau terjadi tabrakan antarmobil, yang salah adalah mobil yang ada di belakang, karena mobil itu yang nabrak. Padahal, menurut Linda, mobil di depannya juga salah, karena ngebut dan kemudian ngerem mendadak. Dan justru kerusakan yang lebih parah dialami sama mobilnya Linda, sementara mobil di depannya cuma penyok sedikit di sudut. Untung saja mobilnya diasuransi, penumpangnya ga ada yang terluka, dan ga harus berurusan panjang lebar sama polisi.

Kecelakaan itu jelas bikin batal acara jalan-jalan ke Lopburi. Apalagi, mobil Linda harus mendekam sebulan di pusat servis. Akhirnya, hari ini gue makan makanan khas Thailand utara (ada makanan yang mirip pepes daging cincang, tapi ternyata otak babi) dan belanja seragam di Tawanna, tempat belanja murah yang mirip Pasar Murah Kepatihan. Lima ratus empat puluh baht saja untuk tiga kemeja dan dua rok. Ya sudah, kita berjumpa lain kali saja ya, monyet-monyet..

Thursday, 5 August 2010

:'(

saya kesal sama mereka yang berjanji akan mengisi pundi-pundi uang saya.
karena janji kalian palsu semua.
jadi saya terlunta-lunta di ibukota sebuah negara asing yang hurufnya saya tidak bisa baca.

saya kesal sama kampus saya yang baru.
karena ternyata salah satu penerima beasiswa ini adalah mahasiswa universitas swasta, padahal salah satu persyaratan yang mereka bikin sendiri, mereka bilang kalau beasiswa ini buat mahasiswa universitas negeri.
karena uang beasiswa belum cair.
karena kartu mahasiswa baru selesai akhir bulan.
karena mereka ga bantuin buat dapet kamar di asrama kampus.
jadi harus cari sendiri.
jadi duit makin menipis.
tapi sampai sekarang belum dapet apartemen dengan harga terjangkau.
padahal harus beli seragam.
padahal harus bertahan hidup.
dan kuliah mulai hari senin.
dan puasa mulai hari rabu.
saking risaunya, saya belum foto-foto sama sekali.

Tuhan, semoga apartemen di Rongmuang punya dua kamar kosong hari Minggu nanti buat saya dan mbak Malorie.
Kalau nggak bisa, semoga bisa numpang di rumah Marisa sampe Lebaran, jadi apartemennya biar buat mbak Malorie aja.
Kalo nggak bisa, semoga saya dapet kamar di Petchaburi soi 7, biar dekat mesjid.
Biarpun ga bisa ngerti khatibnya ngomong apa, saya pengen tarawih..

Sunday, 1 August 2010

the first 50 hours

Gue udah sampai di Bangkok.
Sejak Sabtu malam ku sendiri tiada teman kunanti, gue resmi jadi penghuni sementara di Thailand setelah visa gue dicap di imigrasi Bandara Suvarnabhumi dengan tulisan "used". Dan, seperti yang pernah gue duga sebelumnya, gue mendadak buta huruf. Yang mana agak menyebalkan, karena menghambat gue jajan di pinggir jalan (soalnya cuma bisa baca harga doang tapi ga bisa baca menunya).

Tapi gue ga bisa bertingkah macam turis di sini, meskipun seminggu ini gue masih santai karena kuliah belum mulai. Karena ternyata tampang gue adalah tampang tipikal orang Thailand. Alamakjang. Pantesan setiap orang nyapa gue dengan bahasa Thailand, bahkan mbak-mbak kasir Tops market nanya sesuatu ke gue pake bahasa Thailand (yang gue asumsikan sama maknanya dengan mbak-mbak kasir Alfamart yang nanya apa gue punya kartu member), yang gue jawab dengan gelengan kepala semata.

Dan toh, terlepas dari faktor bawaan (baca: muka), gue masih bernasib seperti turis. Dirampok taksi yang mutermuter di jalan, kehabisan mata uang lokal karena harus bayar hostel dengan uang tunai, menggunakan internet di hape dengan semena-mena sampai pulsanya langsung habis (persis kaya waktu di Jerman, cuma nominalnya aja beda), berhari Minggu di pusat perbelanjaan sampai kaki dan dompet nelangsa, dan naik BTS masih dengan single ticket. Lihat saja nanti kalo gue udah punya student pass setelah resmi jadi mahasiswa... muahahahahaha. Selain semua yang telah tersebut di atas, gue juga masih agak bingung dengan akomodasi sementara sebelum dapat apartemen yang pasti bakal disewa selama empat bulan ke depan, . Maka jadilah minggu ini gue turis yang menggembel dengan koper tiga puluh kilo kurang empat ons..

Besok waktunya gue ke kampus buat ngurusin segala tetek bengek administrasi. Mudah-mudahan bisa sekalian berburu apartemen, paling tidak sampai rekan-rekan dari Filipina itu datang tanggal lima, jadi nanti gue tinggal merayu mereka buat pilih tempat yang sama dengan gue *evilsmirk. Mudah-mudahan juga dapet apartemen yang ada dapurnya, jadi bisa masak supermi, aamiin.

Lapar. Tapi ngantuk. Jadinya tidur aja, biar bisa mimpi makan.
I cannot believe am saying this, but I cannot wait for Monday.

Wednesday, 21 July 2010

balada kairo

Habis baca ini. Dan jadi ngenes.

Gue bukan orang yang berbakat menabung secara alami (#last resort).
Jadi perempuan simpenan, gue ga mau disimpen-simpen karena gue suka ngelayap (#15). Penghasilan sendiri belum punya, apalagi suami kaya (#14).
Lulus kuliah aja belum, maka jangankan jadi wartawan, pegawai perusahaan multinasional, apalagi pegawai negeri, jadi TKI pun tak mungkin... kecuali kalau magang di Deutsche Welle itu jadi, tapi entah kenapa gue sangat amat ragu akan feasibility-nya (#10-12 dan #8).
Jadi blogger ngetop, ah nulis artikel buat tugas kuliah aja belum becus (#9).
Gue ga ada bakat jual-menjual, maka coretlah kemungkinan berkarir di multilevel marketing (#7).
Dulu waktu masih SMA dan dalam masa pertumbuhan, gue bercita-cita jadi pramugari, tapi itu sudah gue kubur dalam-dalam karena mata minus, asma, dan tinggi badan yang alakadarnya (#6).
Kalo mau ikut konferensi ke luar negeri (lagi), harus pontang-panting ngemis dulu cari sponsor sana-sini biar ujung-ujungnya ga pake kartu kredit nyokap kaya waktu ke Jerman kemarin (#5).
Jarang berolahraga bukan awal yang baik untuk menjadi atlet profesional, apalagi yang cabangnya ajaib... macam angkat besi pake gigi (#4).
Bakat seni gue sama minimnya dengan bakat menabung (#3).
Menang kontes kecantikan sama tidak mungkinnya dengan menjadi pramugari, dengan alasan yang sama (#2).

Soal ikut perkumpulan yang memungkinkan gue pergi ke luar negeri, well, klub bahasa Inggris tampaknya potensial, dan World Universities Debating Championship terdengar menggiurkan. Tapi pendaftaran WUDC buat tahun ini di Botswana bahkan udah masuk tahap pembayaran, dan tahun depan, meskipun deket di De LaSalle University, Filipina, gue amat sangat berharap udah lulus kuliah. Tapi toh sebelumnya sudah teramat banyak kompetisi debat internasional yang rutin diadakan di mana-mana setiap tahunnya, dan selalu ada yang baru muncul, dan semuanya menggiurkan. Tapi lagi, kampus terlalu pelit melilit untuk mendanai seluruh kontingen tim debat ke luar negeri, setidaknya untuk beberapa tahun belakangan ini.

Ikut undian yang hadiahnya jalan-jalan gratis, ga pernah beruntung. Sekalinya ikut lomba, dapet hadiah ikutan International Youth Forum di Kairo, Mesir, tinggal bawa badan, paspor, dan koper. Tapi terpaksa harus dilepas.
Demi akhir dari perburuan ke tujuan-tujuan lainnya, yang ternyata tidak berjodoh. Demi karir akademik yang di masa lalu sering ditelantarkan, dan semoga di masa depan lebih gemilang. Demi salah satu impian terbesar dalam hidup gue.
Alasan nomor tigabelas.

Monday, 19 July 2010

when you get paid to study

Pada suatu waktu di masa lalu, tepatnya pada zaman jahiliyah di masa SMA yang imut tapi labil, seorang sahabat gue pernah nyeletuk di blognya soal betapa sekolah itu adalah sebuah siksaan. Nah, karena disiksa itu ga enak, murid-murid harus mendapatkan kompensasi atas siksaan itu. Dan kompensasi apa yang paling cepat bisa didapat, dinikmati, dan dihabiskan? Duit, dong... hahaha.

Dan gue pun mengkhayal... betapa menyenangkannya ketika lo dibayar untuk sekolah. Segala kesusahan yang ditimbulkan tugas-tugas, ujian, rutinitas belajar, dan macam-macam lainnya, akan terbayar. Secara harafiah. Kompensasi dari segala siksaan itu pun bisa dihabiskan untuk membeli rupa-rupa keriaan, tergantung apa yang bisa bikin senang dan dibayar dengan uang. Toh, at the end of the day, it is all about "get some lose some". Atau, seperti istilah Pak Yoppy waktu SMA dulu, "opportunity cost". Pelajar jadi ga ada bedanya sama pengangguran di Eropa: dapat tunjangan entah-apa-namanya.

Ternyata, dibayar untuk sekolah bukanlah sebuah konsep yang utopis, meskipun itu cukup utopis kalau mau diterapkan untuk semua orang. Umumnya, para pelajar harus membayar untuk sekolah, tetapi yang membayari mereka sekolah belum tentu diri mereka sendiri. Di Indonesia, misalnya, sekolah berarti harus bayar SPP (entah per bulan atau per semester), uang gedung, uang praktik, beli buku, beli seragam, bla bla bla. Dan di Indonesia juga, sudah terlalu banyak kasus para calon pelajar yang tidak bisa sekolah, karena tidak ada yang membayari. Kalau mau sekolah, harus ada pihak yang siap membayari dulu. Mau ngapain di sekolah, itu urusan belakangan.

Lalu, apa bedanya "dibayari sekolah" dengan "dibayar untuk sekolah"? Ketika mereka dibayar untuk sekolah, para pelajar ini akan terikat serangkaian syarat dan ketentuan dengan pihak yang membayari. Seringkali, syarat dan ketentuan ini melibatkan target berupa pencapaian akademik tertentu. Pokoknya, target macam apapun itu, selama masih bisa diraih, kompensasi atas "siksaan akademis" bisa dinikmati. Contoh paling sederhana adalah iming-iming orangtua pada anaknya, kalau ranking satu nanti dibeliin mainan baru. Setelah sekolah, ada hadiah.

Contoh lainnya, beasiswa. Para calon pelajar akan ramai-ramai mendaftar, "jual diri", ikut beragam seleksi, dan nanti tinggal urusan rezeki saja, dapat atau tidaknya. Kalau dapat, mereka bisa bersekolah tanpa pusing mikirin siapa yang bayar. Bahkan, kalau beruntung dapat beasiswa penuh, ga perlu pusing-pusing mikirin gimana bisa bertahan hidup di luar kampus. Mereka cukup perlu pusing sama urusan sekolah. "Lo belajar aja yang bener, hidup lo biar gue yang tanggung." Bahkan, dengan beasiswa, ada dosen gue yang bisa kuliah sambil jalan-jalan keliling Eropa! Kalau dia bikin buku catatan perjalanan, lengkaplah sudah rasa iri gue.

Hal lain yang secara spesifik langsung membuat gue kepikiran soal "dibayar untuk sekolah" adalah beasiswa ikatan dinas. Sepupu gue yang terancam dapet beasiswa ini akan berkesempatan kuliah di ITB dengan biaya Departemen Perdagangan, di mana dia akan kerja setelah lulus nanti. Two less worries at their own times - ga pusing bayar kuliah, dan setelah lulus kuliah ga pusing cari kerja. Terdengar seperti masa depan yang menjanjikan dan cerah (meskipun agak predictable, sebagian orang ga bakal komplain juga soal ini).

Dibayar untuk sekolah memang terdengar asyik. Setelah ada pihak baik hati yang mau menanggung segala keruwetan hidup di masa sekolah, yang tersisa buat orang yang sekolahnya dibayari ini ya tinggal satu. Sekolah yang bener. Kaya pepatah di sampul kertas buat buku tulis, sukses selalu bagi si rajin. Tanggung jawabnya akan terasa beda ketika pihak yang membayari sekolah itu bukan orang tua, the eternal donator which sometimes are taken for granted.

Dulu, gue bercita-cita dapet beasiswa karena itu tampak sebagai sebuah pencapaian akademis yang sangat keren. Sayangnya, gue dulu berpikir kalau beasiswa itu hanya untuk orang-orang yang berada di atas garis kepintaran atau di bawah garis kemiskinan. Kalau gue dapet beasiswa yang dialokasikan untuk orang-orang semacam itu, gue sungguh medioker yang tak tahu diri. Jadilah gue menggunakan alasan itu untuk menjadi cupu dan tidak mengincar kesempatan beasiswa apapun, sampai tingkat tiga kuliah. Dibayar untuk kuliah adalah sesuatu yang terlalu muluk buat gue.

Ketika pada akhirnya gue dapet beasiswa, meskipun buat satu semester, gue merasa menjadi anak sekolahan yang harus sekolah dengan sebenar-benarnya. Lupakan bolos kelas karena bosan, hujan, ga punya ongkos, kompetisi, festival, forum, atau segala kesempatan untuk jalan-jalan. Atau mungkin ini cuma masalah waktu, dan beasiswa ini cuma jadi cantelan doang. Sudah waktunya gue belajar dengan rajin, dan dengan rajin menghalau godaan untuk menjadi malas. Memang sih, nilai gue selama kuliah di Bangkok ga bisa ditransfer, jadinya ga bakal pengaruh apapun ke transkrip gue yang sekarang, mau sebagus atau sejelek apapun. Gue cuma bakal kuliah tiga hari seminggu, dan sisanya bisa buat hura-hura keliling Thailand. Gue bakal dapet lima puluh ribu baht untuk biaya hidup sepanjang tahun 2010 di negeri gajah putih.

Sebetulnya gue bisa punya banyak sekali kesempatan untuk main-main. Liburan musim panas memang musimnya acara-acara anak sekolahan, yang konferensi lah, forum pemuda lah, festival pelajar lah, macam-macamlah. Dan hal-hal yang begini selalu tampak menggoda, soalnya bisa ke luar negeri tapi ga terkesan buang-buang uang tapi tetep bisa jalan-jalan, hahaha. Kayanya seru sekali kalau bisa ke Kairo awal Agustus ini selama sebelas hari, langsung lanjut ke Seoul sampai akhir bulan. Ada dua acara forum pemuda yang serupa tapi tak sama, dan gue bisa berangkat ke kedua tempat itu hampir tanpa menguras kocek pribadi sama sekali. Terbayanglah tempat-tempat baru, yang asing tapi menggoda rasa ingin tahu... visa-visa baru di paspor yang distempel di imigrasi... foto-foto baru dan teman-teman baru di situs jejaring sosial... berburu tiket murah di expedia... susun itinerary, bikin checklist dan mencoretinya satu demi satu sebelum berangkat...

Gue bisa aja sih nekat bolos. Bilang aja kalau toh keikutsertaan gue dalam acara-acara beginian akan turut mengharumkan nama kampus, as I would always say for a justification. Tapi kok kalau begitu lagi, di sebuah kampus yang sama sekali lain, dengan alasan keberadaan di sana yang begitu berbeda, kok ya rasanya gue lebih parah daripada menjadi seorang medioker yang ga tau diri...

Sunday, 18 July 2010

pilih salah satu!

Konon, meskipun hidup itu awalnya bukan pilihan, hidup itu ga bisa lepas dari pilihan. Kadang-kadang, pilihan-pilihan yang tersedia itu ga ada yang tampak bagus, sehingga yang akhirnya dipilih adalah yang paling mending. Jarang-jarang, pilihan yang ada justru malah semuanya tampak bagus, sehingga mau milih pun jadi bingung. Tapi yang paling sering adalah situasi di mana orang bisa mengklaim kalau mereka "ga punya pilihan", tapi toh mau ga mau tetep harus milih.

Memilih itu gampang-gampang susah. Gampang, kalau udah tau apa yang mau dipilih. Kalau belum, ya lain cerita. Memilih itu bisa jadi keharusan, tapi bisa juga jadi hak. Yang bagi gue menyebalkan ketika "harus" memilih adalah, dari sekian banyak pilihan yang ada, cuma ada satu yang bisa diambil. Padahal itu sebuah konsekuensi yang sangat logis, tapi tetep aja most of the time gue akan berkelit dengan alasan, "gue kan orangnya terbiasa multitasking!". Hahaha.

Pergi ke Bangkok ini juga sebuah pilihan, sekaligus sebuah konsekuensi.

Waktu menghadap Dekan buat minta surat rekomendasi, gw mendapat satu pertanyaan yang paling dibenci mahasiswa tingkat akhir: "Kamu mau lulus kapan?". Pertanyaan itu gue jawab dengan mantap, "Deadline saya Oktober 2011, Pak." Tapi begitu ditanya lagi, "Itu sudah termasuk kamu (ikutan) exchange ini, belum?", gue cuma bisa nyengir asem dan bilang, "Kan belum tentu dapet, pak..."

Syahdan, gue ternyata ditakdirkan berjodoh dengan Bangkok. Rencana garis waktu kuliah pun "terpaksa" dirombak. Gue menunda job training alias magang di media massa cetak sampai tahun depan, sambil harap-harap bakal ada lowongan di koran berbahasa Inggris di ibukota. Sebelumnya, gue memilih untuk magang pas liburan, dan menghabiskan semester genap untuk kuliah penuh waktu. Konsekuensi yang paling jelas adalah, tentu saja, tidak lulus tepat waktu... yang rasanya tidak lagi biasa-biasa saja ketika dua sahabat gue lulus kuliah bareng-bareng tanpa gue.

Siap-siap pergi sekolah di negeri orang berarti berkutat dengan banyak pilihan. Pergi naik maskapai apa, tanggal berapa? Tinggal di mana, apartemen yang seperti apa? Ke kampus nanti naik apa? Sebelum dapet apartemen, numpang di mana, sama siapa? Apa aja yang masuk koper, apa yang dibeli di sana?

Kurang dari tiga minggu sebelum keberangkatan, satu demi satu pilihan pun diambil. Tiket Jakarta-Bangkok sudah dibeli, meskipun agak ga rela bayar 1,1 juta buat AirAsia. Daftar apartemen potensial sudah disusun dan siap dijelajahi di tempat. Calon laptop baru juga udah dipilih-pilih berdasarkan spesifikasi impian yang sesuai dengan anggaran.

Dan... seperti halnya dalam film-film, saudara-saudara... konflik pun muncul. Lucunya, gue udah sempat membayangkan kalau hal ini bakal terjadi, bahkan menulis tentangnya di blog ini. Sayangnya, gue ga sampai membayangkan akhir yang bahagia.

Sebenarnya, konflik ini adalah kejutan yang menyenangkan. Perjalanan ke Kairo, Mesir, selama seminggu dalam rangka International Youth Forum, my very kind of trip. Sebagai hadiah lomba esai dari sebuah organisasi (yang bakal gue wakili dalam youth forum), perjalanan ini sepenuhnya gratis! Yang bikin perjalanan ini berkonflik adalah tanggal pelaksanaannya, 3-14 Agustus 2010, karena kuliah gue di Bangkok dimulai pada tanggal 9 Agustus! Plus, gue harus berangkat bersama-sama rombongan organisasinya, dari dan ke Jakarta. Huhuhu...

Berbagai pilihan pun bermunculan di kepala gue, menanti untuk dipilih. Gue bisa memilih untuk nekat berangkat ke Kairo. Itu berarti gue harus bolos kuliah minggu pertama, menjadwal ulang keberangkatan ke Bangkok, yang bakal berdampak fatal terhadap tiket pesawat dan visa yang udah beres diurus. Atau gue bisa memilih untuk stick to plan A, dan melupakan bayangan untuk melihat piramid selain dari yang ada di iklan cemilan wafer, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun untuk bisa sampai ke sana...

Sialnya, gue ga punya banyak waktu untuk memilih. Tiket Jakarta-Bangkok gue tertanggal tepat akhir bulan ini, ulang tahun Harry Potter yang ke-tigapuluh. Dan tanggal itu tinggal dua minggu dari sekarang. Dalam jangka waktu segitu, masih banyak hal yang harus diurus sebelum berangkat, dan gue ga bakal kembali ke Indonesia sampai Januari tahun depan. Plus, gue juga masih butuh waktu untuk pemulihan, setelah dikirim menginap lima hari di rumah sakit sama si nyamuk belang.

Terlepas dari apa pilihan-pilihan yang udah diambil, gue berusaha menikmati setiap konsekuensinya. Toh, it might not be as enjoyable if I have it in any other way. Dan untuk menikmati konsekuensi, itu juga sebuah pilihan...

Friday, 9 July 2010

visa punya cerita

Visa, selain paspor dan tiket pesawat, adalah satu hal yang bakal paling menyita perhatian dalam persiapan perjalanan ke luar negeri. Visa jugalah yang dulu membuat gue beranggapan kalau ke luar negeri itu luar biasa ribet dan mahalnya.

Untunglah, sebagai warga negara Indonesia, gue bisa menikmati bebas visa untuk 30 hari di sejumlah negara, termasuk di dalamnya negara-negara ASEAN. Perjalanan ke Singapura dan Malaysia pun bisa berlangsung mulus tanpa bikin visa dulu: cukup kasih tunjuk paspor di bagian imigrasi bandara setempat, langsung deh dapet cap visa social visit, gratis! Oh ya, sebelum awal Juni 2010, para pemegang paspor Indonesia masih harus bayar 25 dolar untuk dapat visa on arrival Kamboja. Sekarang? Sudah gratis juga dong, cihuy!

Tidak untungnya, untuk kasus gue yang bakal kuliah satu semester di Bangkok, pengurusan visa ternyata masih dibutuhkan. Cek punya cek, gue harus ngurus visa non-imigran kategori Education. Visa ini punya dua macam masa berlaku; tiga bulan dan satu tahun. Lah, kan kuliah efektif gue aja lamanya empat bulan? Nah, ternyata oh ternyata, yang bisa gue pilih adalah yang tiga bulan, terus satu bulan sebelum masa berlakunya habis harus diperpanjang. Oke, kedengarannya ga susah... yuk mari siap-siap bikin visa!

Entah ini untung atau bukan, tapi seperti kata iklan kosmetik, pengalaman mengajariku segalanya. Setelah sebelumnya buta total sama urus-mengurus visa, pengalaman ngurus Visa Schengen di Kedutaan Besar Jerman dua bulan lalu langsung menyisakan kenangan pedih dan duka lara tiada tara.
Lesson learned: bikin visa itu tidak luar biasa ribet dan mahal. Hanya luar biasa ribet.... dan keribetan itu sangat luas cakupannya; mulai dari antrian sepanjang ular naga sejak pagi buta, sampai para satpam penjaga pintu yang mentalnya udah kaya penjajah. Demi bisa mencoret kata "luar biasa", cuma ada satu cara: do not miss a thing!

Maka, cerita pun berlanjut ke Jalan Imam Bonjol nomor 74, Jakarta. Kedutaan Besar Thailand, saudara-saudara! Tempatnya agak sepi, boro-boro ada antrian di depan pintu gerbang masuk. Gue pertama kali sampai di tempat ini jam dua siang, dan karena udah bukan waktunya masukin aplikasi visa, gue cuma ngobrol ringan sama para satpam. To my surprise, satpam-satpam ini bersahabat sekali! Jauuuuuuuuuuuuuuuuh banget bedanya sama yang versi Kedutaan Jerman. Mereka memang sama-sama bukan sumber informasi yang bisa diandalkan ("telepon hotline aja, Mbak!"), tapi mereka tahu caranya senyum. Waktu gue tanya ke mereka apa gue boleh masuk ke pos jaga di dalam gedung, karena harus ngambil barang berharga dari dalam tas, mereka sama sekali ga keberatan. Bahkan, salah seorang petugas polisi yang ikut jaga di kedutaan sempat curhat soal betapa arogannya sejumlah kedutaan dalam hal penjagaan keamanan. "Mereka ga mau sehari-hari dijaga sama kita (polisi Indonesia). Kayak yang ga percaya. Tapi kalau ada masalah macam-macam, ngadunya pasti ke kita juga..."

Besoknya, gue dateng tepat jam sembilan pagi. Pelayanan visa Thailand buka setiap hari kerja, jam sembilan pagi sampai dua belas siang untuk masukin aplikasi, dan jam setengah dua siang sampai tiga sore untuk ambil visa yang udah jadi. Bagian konsuler di Kedutaan Besar Thailand ternyata pintunya di sisi kiri pintu utama (yang ada papan nama kedutaannya). Masuknya dari Jalan Pekalongan. Ga ada antrian sama sekali di depan pintu pagarnya. Pas masuk halaman depan pun cuma ada satu satpam, dan ga ada pemeriksaan fisik atau barang bawaan. Maka melengganglah gue masuk ke dalam ruangan yang mirip ruang tamu, cuma bedanya ada loket aja di sisi kirinya. Udah ada satu bapak-bapak bule tua di situ, berdiri di depan loket buat masukin aplikasi. Ealah, si bapak ini sempet-sempetnya bilang ke petugas di loket, "if I pay extra, can I get my visa tomorrow?". Padahal, pembuatan visa Thailand ini hanya tiga hari kerja! Buat gue, yang pengalaman sebelumnya adalah ngurusin Visa Schengen dengan masa pembuatan sepuluh hari kerja, visa yang di-apply hari ini dan bisa diambil lusa itu sungguh bisa disyukuri. Untung deh, masih ada sejumlah tempat pelayanan publik di mana ga dikenal istilah "uang pelicin"!

Proses apply visa-nya sendiri ga ribet. Pertama, gue main dulu ke situsnya Ministry of Foreign Affairs, Kingdom of Thailand. Di sini, semua informasi terkait persyaratan dokumen untuk visa udah dipajang lengkap, sesuai dengan jenis-jenis visanya. Untuk apply visa non-imigran dalam rangka belajar, dokumen-dokumen yang gue bawa adalah paspor, bukti pemesanan tiket bolak-balik, acceptance letter dari Chulalongkorn (ga perlu hard copy surat asli, print-out dari soft copy-nya juga oke), surat keterangan mahasiswa (yang menerangkan bahwa gue adalah benar mahasiswaUnpad yang akan mengikuti program ini bla bla bla), plus formulir yang udah diunduh dari internet dan diisi dari rumah (bisa juga didapat dan diisi di tempat, cuma satu lembar kok). Gue bahkan ga butuh dokumen bukti keuangan, padahal udah diurus.

Visa untuk pelajar dengan masa berlaku 90 hari ini harganya 65 dolar (2.000 baht), dan dibayarkan dalam dolar. Keterangan ini ga ada di situs, jadi gue harus keluar kedutaan dan nuker duit dulu di money changer, yang untungnya walking distance. Kembaliannya dikasih dalam dolar juga. Visa ini sifatnya single entry, jadi kalau gue keluar Thailand, visanya bakal otomatis hangus. Kalau mau masuk Thailand lagi, dan tinggal lebih dari masa berlaku visa turis (30 hari), gue harus apply re-entry permit, yang harganya beda tergantung visanya single atau multiple entry.

Setelah tiga hari kerja, visa gue pun jadilah. Gue dateng jam dua siang, disamperin satpam yang minta tanda bukti pengambilan visa. Pak satpamnya masuk ke ruangan tempat gue apply visa dua hari sebelumnya, gue diminta nunggu di halaman depan. Ga sampai lima menit, pak satpam muncul lagi dengan paspor gue di tangan. Beda dengan on arrival tourist visa waktu ke Singapura dan Malaysia, yang gue dapet dalam wujud cap, visa non-imigran ini bentuknya stiker. Warnanya biru muda, ada lambang kerajaan Thailand-nya, ga ada foto si empunya visa, tapi ada keterangan harga visanya... ehehehe.

Setelah memperpanjang masa tinggal di ibukota demi menunggu visa selesai, saatnya pulang! :D

Monday, 5 July 2010

perburuan bermula

Selamat tanggal lima Juli!
Ini berarti empat minggu lagi menjelang keberangkatan ke Bangkok, dan lima minggu lagi sebelum hari pertama kuliah. Yay!

Setelah sebelumnya dibuat puyeng bukan kepayang sama on-campus accommodation yang mahalnya nggak ketulungan, dan belantara search engine itu malah memunculkan kamar-kamar hostel yang tarifnya per malam, tadi malam Mbah Google berbaik hati ketika gw mengetikkan kata kunci "petchaburi room rent". Apartemen-apartemen, kebanyakan yang studio atau berkamar satu, pun bermunculan dengan tarif per bulan rata-rata lima ribu baht. Hore!

Ngomong-ngomong, "Petchaburi" adalah nama sebuah jalan di Bangkok. Pertama kali denger nama jalan ini dari Marya, sobat asal Singapura, yang ngasi rekomendasi tempat makan halal. Terus dikasih info lagi sama Marisa, keponakannya temennya temen nyokap yang tahun ini mulai kuliah di Chula, kalo ada kost-an murah di sana yang harganya 4.500-an. Gw tertarik buat cari apartemen di daerah sini, karena selain rekomendasi dari dua temen tadi, Petchaburi juga ga terlalu jauh sama kampus, dan satu jalan sama Kedutaan Besar Republik Indonesia. Kan lumayan, kalo lagi bokek bisa mampir minta makan. Hore!

Perburuan gw malam ini sebetulnya sangat terbantu oleh beberapa acuan.
Pertama adalah file pdf yang diunduh dari sebuah situs milik ibu-ibu pemilik jaringan Thai Spa-something. Lumayan, ada tiga peta di sana, di masing-masing peta ada minimal lima apartemen. Yang kedua adalah situs 9apartment.com, yang ternyata punya pilihan pencarian yang sangat oke: residence nearby university. Cukup buka window atau tab baru, informasi detail apartemen-apartemen potensial itu bisa dilihat. Lumayan buat perbandingan harga, fasilitas, sama lokasi. Perburuan apartemen dengan harga yang terjangkau beasiswa pun mulai menemukan akhir yang bahagia. Jalur transportasi darat di Bangkok ternyata bisa dilihat di internet, misalnya bus kota, dan kita dengan gampangnya tinggal masukin tempat tujuan di kotak pencarian untuk tahu bus apa aja yang lewat sana dan rutenya gimana. Makin jelaslah gimana cara berpindah tempat dari apartemen ke kampus. Hore lagi!

Tetapiii.. gw masih punya beberapa pe-er soal perburuan apartemen idaman ini.
Pertama adalah cita-cita gw sejak kecil untuk bisa ke sekolah jalan kaki. Sialnya, cita-cita ini justru baru terkabul ketika gw ikutan Greifswald International Student Festival di Jerman bulan lalu. Sebetulnya sih alasannya ada dua: gw ga punya cukup euro (dan kerelaan) untuk naik bus bolak-balik rumah host-tempat workshop, dan pilihan yang tersisa selain naik bus dan jalan kaki adalah naik sepeda.
Kedua, adalah kecenderungan gw untuk berangkat kuliah di detik-detik terakhir, dengan harapan akan keberuntungan ekstra bisa langsung dapet damri atau angkot yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Ketiga, gw nyari apartemen yang deket jalan raya dan/atau terminal bus atau stasiun kereta, nggak jauh dari pusat perbelanjaan, dan banyak tempat makan tom yam. :D
Keempat, dan yang "agak" serius, adalah masa tinggal. Beberapa apartemen yang syarat minimum stay-nya enam bulan sih udah dicoret duluan, karena gw cuma bakal kuliah empat bulan. Tapi kan ya nggak mungkin gw tinggal ngepas empat bulan... Gw berencana datang seminggu sebelum kuliah mulai, biar bisa kenalan dulu sama Bangkok, dan tentu saja menyiapkan room sweet room. "Sial"-nya, perkuliahan semester ganjil selesai pas pertengahan Desember. Itu berarti, kalau gw masuk awal Agustus, gw bakal nyewa apartemen lebih dari empat bulan. Bisa aja sih gw sewa cuma sampai awal Desember, tapi gw ogah berat kalo harus pindahan menjelang musim ujian. Sewa sekalian sampe akhir Desember? Hmm... sayangnya, gw berencana untuk cabut dari Thailand segera setelah kuliah beres, karena gw pengen flashpacking ke negara-negara di sekitar Thailand, dan pulang ke Indonesia dari Malaysia atau Singapura naik pesawat setelah tahun baru.
Maka itu berarti alasan kelima dan yang paling krusial, saudara-saudara: upaya penghematan beasiswa!

Rencana sementara sih adalah mengontak kenalan atau sanak saudaranya kenalan yang udah menclok duluan di Bangkok, minta rekomendasi tempat tinggal sementara sebelum nemu apartemen. Best case scenario-nya sih, numpang sampai minggu pertama kuliah selesai, baru check-in apartemen sekitar tanggal dua belas Agustus supaya pas sewa apartemennya empat bulan. Till then, ya survei hasil perburuan saja terus sampai mabok... hehehe.

Karena gw adalah orang yang suka berbagi kebahagiaan, informasi akomodasi nan terjangkau ini juga sudah gw forward ke teman-teman Filipina yang senasib sepenanggungan. Akan sangat menyenangkan jika kelak kami tinggal di gedung apartemen yang sama, jadi akan mudah untuk pulang bersama-sama setelah nonton Harry Potter and the Deathly Hallows...